Gelombang Panas Ekstrem di Korea Selatan: Suhu Tembus 37°C, Warga Terancam Kematian
Siti Rahmawati
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Korea Selatan mengumumkan peningkatan status siaga gelombang panas menjadi "peringatan" pada separuh wilayah negara itu pada Jumat, menyusul prediksi suhu maksimum yang dapat mencapai atau melampaui 37°C hingga akhir pekan. Keputusan ini diambil oleh Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan setelah data meteorologi menunjukkan tren pemanasan yang tak terhindarkan.
Menurut pernyataan resmi, status siaga kini berlaku di 116 dari 235 zona peringatan khusus. Ambang batas peringatan ditetapkan ketika suhu maksimum diproyeksikan mencapai 35°C atau lebih selama dua hari berturut‑turut. Badan Meteorologi Korea menegaskan bahwa suhu tertinggi pada siang hari dapat melonjak hingga 37°C di sebagian besar wilayah, sementara daerah selatan diperkirakan berada di kisaran 35°C.
Risiko sengatan panas yang meningkat tajam memaksa pemerintah menginstruksikan peningkatan pemantauan dan langkah pencegahan khusus bagi kelompok rentan, termasuk lansia, pekerja pertanian, dan buruh lapangan. Patroli di area terbuka serta lahan persawahan akan diperketat, sekaligus upaya melindungi komoditas pertanian dari potensi kerusakan.
Sebelum gelombang panas melanda, Korea Selatan baru saja diguncang hujan monsun lebat pada Rabu dan Kamis yang menyebabkan banjir, evakuasi massal, dan kerusakan infrastruktur. Data Yonhap mencatat 758 orang dievakuasi, satu orang dilaporkan hilang, dan lebih dari 400 fasilitas mengalami kerusakan.
Analisis Pakar
Fenomena panas ekstrem ini bukan sekadar anomali cuaca sesaat. Dari perspektif iklim, Korea Selatan berada di jalur lintasan perubahan iklim global yang memperparah frekuensi dan intensitas gelombang panas. Pemerintah tampaknya masih beroperasi dalam kerangka respons reaktif, mengandalkan peningkatan status siaga dan patroli lapangan tanpa menyentuh akar penyebab—emisi karbon yang terus meningkat dan kurangnya kebijakan mitigasi jangka panjang.
Langkah-langkah darurat seperti penempatan tim patroli dan peringatan publik memang penting, namun mereka tidak cukup untuk melindungi populasi rentan yang sudah tertekan oleh urbanisasi cepat dan kepadatan penduduk. Kebijakan adaptasi yang lebih holistik—misalnya, penyediaan ruang pendingin publik, subsidi energi untuk rumah tangga berpendapatan rendah, serta penataan ulang jadwal kerja di sektor pertanian—harus segera diintegrasikan ke dalam rencana nasional.
Selain itu, respons pemerintah terhadap banjir sebelumnya menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan infrastruktur. Evakuasi massal dan kerusakan pada lebih dari 400 fasilitas menunjukkan bahwa sistem mitigasi bencana belum siap menghadapi peristiwa berulang. Investasi pada sistem drainase modern, jaringan peringatan dini berbasis teknologi AI, dan pelatihan komunitas lokal menjadi keharusan.
Jika tidak ada perubahan paradigma—dari reaktif menjadi proaktif—Korea Selatan akan terus berada di garis depan risiko iklim, menanggung beban kesehatan publik, ekonomi, dan sosial yang semakin berat. Pemerintah harus mengakui bahwa gelombang panas 37°C bukan sekadar angka, melainkan alarm keras yang menuntut aksi konkret, terukur, dan berkelanjutan.
BERITA TERKAIT

Bank Tanah dan ‘Jebakan Legal’ Reforma Agraria: Antara Janji Kemandirian Petani dan Realitas Kekuasaan Tanah Negara
Siti Amalia
Paradoks Pelayanan Publik DKI: Raih Predikat Tertinggi, Namun Ratusan Laporan Maladministrasi Masih Menghantui
Siti Rahmawati
Skrining CKG Ungkap 2,8 Juta Warga Sumut Terancam Ledakan Krisis Kesehatan Jiwa: Dinkes Masih Jalan Kaki, Padahal RS Jiwa Penuh & Dokter Spesialis Justru Minim
Budi Santoso