Drama Bahasa Inggris 'Putri Mandalika' Jadi Sorotan di Open House Sekolah Rakyat: Antara Harapan Pendidikan Gratis dan Politik Populisme
Budi Santoso
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Open house Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 18 Lombok Barat pada Jumat, 10 Juli 2026, berubah menjadi panggung megah bagi para siswa yang menampilkan ragam seni, termasuk mikroâdrama berbahasa Inggris berjudul Putri Mandalika. Penampilan yang dihadiri Menteri Sosial Saifullah Yusuf (GusâŻIpul) dan pejabat Kementerian Sosial lainnya, sekaligus menjadi ajang promosi kebijakan pendidikan gratis yang digulirkan oleh pemerintah.
Drama yang dipentaskan mengisahkan legenda Mandalika dengan narasi berbahasa Inggris: âLong ago, in Lombok, there lived a beautiful and wise princess named Mandalika.â Kostum warna-warni dan kepercayaan diri siswa menambah nilai estetika, namun di balik sorotan seni terdapat agenda politik yang lebih besar.
Selain drama, siswa menampilkan yelâyel, tarian tradisional, pencak silat, paduan suara, puisi, dan pidato tiga bahasa asing. Penampilan ini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan, melainkan juga membentuk karakter dan keterampilan praktis.
GusâŻIpul dalam pernyataan tertulis pada Sabtu, 11 Juli, menyatakan, "Alhamdulillah anakâanak kami setelah satu tahun belajar kini lebih percaya diri, semangat, dan sudah ada yang berprestasi." Ia menekankan bahwa sekolah ini tidak membuka pendaftaran reguler, melainkan mengandalkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk menargetkan keluarga desil satu.
Penekanan pada penjangkauan aktif ini, menurut GusâŻIpul, merupakan wujud kepedulian Presiden Prabowo Subianto dalam mengentaskan kemiskinan. "Manfaatkan kesempatan ini sebagai persembahan dari Bapak Presiden Prabowo," pungkasnya, sambil mengingatkan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan untuk tidak melakukan penyimpangan.
Sejumlah orang tua, seperti Jannahâibu seorang anak nelayanâmenyambut baik program ini. "Saya berterima kasih kepada Presiden Prabowo karena anak kami bisa mendapatkan pendidikan yang layak," ujarnya. Jannah mewakili ribuan keluarga yang mengandalkan bantuan pemerintah untuk mengakses pendidikan gratis.
Saat ini, lima titik Sekolah Rakyat rintisan telah beroperasi di Nusa Tenggara Barat, tersebar di Lombok Timur, Lombok Barat, dan Sumbawa. Pembangunan gedung permanen dijadwalkan selesai bulan ini, yang diharapkan akan menambah jumlah siswa secara signifikan.
Analisis Pakar
Di balik kemeriahan open house, ada pertanyaan mendasar yang harus dijawab: apakah Sekolah Rakyat benarâbenar mampu mengatasi kesenjangan pendidikan atau sekadar menjadi alat politik bagi pemerintahan yang ingin menambah poin popularitas menjelang pemilu? Program penjangkauan berbasis DTSEN memang terkesan inklusif, namun tanpa mekanisme akuntabilitas yang kuat, risiko "pemberian bantuan selektif" dan potensi korupsi tidak dapat diabaikan. Pengawasan ketat yang disebutkan oleh Menteri Sosial harus diimplementasikan secara independen, melibatkan lembaga pengawas eksternal, bukan hanya otoritas internal yang berpotensi memiliki konflik kepentingan.
Selanjutnya, kualitas pendidikan yang dijanjikan masih menjadi misteri. Menyajikan pertunjukan seni memang mengesankan, namun tidak sertaâmerta menjamin standar akademik yang memadai. Apakah kurikulum yang diterapkan memenuhi standar nasional? Bagaimana kompetensi guru yang ditugaskan di sekolahâsekolah rintisan ini? Tanpa data transparan tentang hasil belajar, angka kelulusan, dan penempatan kerja, klaim "anakâanak yang tangguh" tetap bersifat retoris.
Politik populisme juga tampak jelas dalam retorika yang mengaitkan program ini dengan nama Presiden Prabowo. Menggunakan nama kepala negara sebagai âpersembahanâ dapat menimbulkan ekspektasi tidak realistis dan menutup ruang kritik. Jika program ini gagal memenuhi janji, konsekuensinya bukan hanya pada reputasi pemerintah, melainkan pada generasi muda yang menjadi korban kebijakan yang tidak berkelanjutan.
Ke depan, saya menilai bahwa keberhasilan Sekolah Rakyat akan sangat bergantung pada tiga faktor kunci: (1) transparansi alokasi dana dan hasil evaluasi independen; (2) penguatan kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan; dan (3) integrasi kurikulum lokal dengan standar nasional tanpa mengorbankan kualitas. Jika semua ini dapat terwujud, program ini berpotensi menjadi model pendidikan inklusif di Indonesia. Namun, bila hanya menjadi panggung politik, maka drama "Putri Mandalika" akan menjadi satu lagi contoh retorika kosong yang mengaburkan realitas tantangan pendidikan di daerahâdaerah terpencil.
BERITA TERKAIT

Bahlil Tunda Rencana Pengolahan Gas Andaman di KEK Arun: Antara Janji âWinâWinâ dan Realitas Biaya Tinggi

Skandal BLUD RSUD Dr Pirngadi: Jejak Aliran Dana Rp23,8 Miliar dan Nasib Sang Mantan Direktur
