Ambisi Sport Tourism Mandalika: Fasilitas Padel Baru, Solusi Nyata atau Sekadar Pelengkap PON 2028?
Eka Saputra
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

LOMBOK – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika kembali memperluas portofolionya dalam ekosistem wisata olahraga. Melalui Injourney Tourism Development Corporation (ITDC), pemerintah secara resmi meluncurkan fasilitas olahraga terbaru berupa tiga lapangan Padel profesional dan satu lapangan basket yang kini terintegrasi dalam kawasan tersebut.
Peresmian yang dilakukan oleh Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora) ini diklaim sebagai langkah strategis untuk memperkuat infrastruktur olahraga di Nusa Tenggara Barat. Lebih dari sekadar fasilitas rekreasi, venue ini diproyeksikan menjadi salah satu titik krusial dalam mendukung penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028 mendatang.
Langkah ITDC dalam menghadirkan olahraga Padel—yang tengah menjadi tren global—menunjukkan upaya pemerintah untuk tidak hanya terpaku pada ajang balap motor kelas dunia, tetapi juga merambah ke cabang olahraga yang memiliki daya tarik gaya hidup tinggi bagi wisatawan mancanegara maupun domestik.
Analisis Redaksi: Menakar Urgensi dan Keberlanjutan Infrastruktur Mandalika
Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat ada pola yang berulang dalam pembangunan infrastruktur di KEK Mandalika. Di satu sisi, penambahan lapangan Padel dan basket adalah langkah progresif untuk diversifikasi produk wisata. Namun, kita harus bertanya secara kritis: Apakah pembangunan ini didasarkan pada riset kebutuhan atlet dan pasar yang mendalam, atau sekadar mengejar target administratif menjelang PON 2028?
Padel adalah olahraga yang sangat spesifik dan cenderung eksklusif. Membangun fasilitas mewah di tengah kawasan yang masih berjuang dengan isu pemberdayaan masyarakat lokal menciptakan kontras yang tajam. Ada risiko besar bahwa fasilitas ini hanya akan menjadi 'monumen beton' yang megah saat event besar berlangsung, namun sepi peminat dan terbengkalai setelah seremoni penutupan PON berakhir. Kita tidak ingin melihat pengulangan tragedi infrastruktur olahraga di berbagai daerah di Indonesia yang hanya berkilau saat peresmian, namun melapuk karena biaya perawatan yang membengkak tanpa ada manajemen operasional yang berkelanjutan, serupa dengan kekhawatiran pada investasi prestasi atau sekadar formalitas tahunan di daerah lain.
Lebih jauh lagi, integrasi antara sport tourism dan dampak ekonomi riil bagi warga lokal Lombok masih menjadi tanda tanya besar. Jika fasilitas ini hanya bisa diakses oleh kalangan elit atau wisatawan kelas atas tanpa ada program pembinaan atlet lokal secara sistematis, maka narasi 'pemerataan ekonomi' yang sering didengungkan pemerintah hanyalah pemanis kata. Pemerintah dan ITDC harus mampu membuktikan bahwa lapangan Padel ini bukan sekadar alat pencitraan untuk menunjukkan bahwa Mandalika adalah kawasan 'modern', melainkan sebuah investasi yang memiliki Return on Investment (ROI) sosial dan ekonomi yang jelas, bukan sekadar laboratorium baru pemerataan ekonomi yang tidak menyentuh akar rumput.
Prediksi saya, jika manajemen pasca-PON 2028 tidak dirancang dengan model bisnis yang inklusif, fasilitas ini akan menjadi beban fiskal baru. Tantangan terbesarnya bukan pada membangun lapangannya, melainkan pada bagaimana menciptakan ekosistem olahraga yang hidup setiap hari, bukan hanya setiap empat tahun sekali. Mandalika harus berhenti berpikir tentang 'apa yang bisa dibangun' dan mulai berpikir tentang 'siapa yang akan mengelola dan siapa yang benar-benar mendapat manfaat' dalam jangka panjang.
BERITA TERKAIT

Drama Semifinal Hydroplus Soccer League: Akademi Persib Bandung Gigit Tiket Final Usai Duel Sengit 2‑1 melawan Putri JP Jakarta

Klaim 'Bebas Korupsi' Kementan: Antara Retorika Tata Kelola dan Realita Kesejahteraan Peternak
