Relawan Belgia sing dikenal minangka “Lengger Bule”: Antarane Pertukaran Budaya lan Kontroversi Penampilan ing Festival Gregreb Suran Baturraden 2026.
Siti Rahmawati
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Banyumas, 12 Juli 2026 – Rombongan 12 relawan dari Belgia, yang diatur oleh Yayasan Tileng Belanda (Stichting Tileng), mempertunjukkan tarian Lengger Bule dalam rangka Festival dan Gregreb Suran Baturraden. Penampilan ini, yang sekaligus menjadi daya tarik wisata, memicu perdebatan mengenai batas antara apresiasi budaya dan eksotisasi, sekaligus menyinggung dinamika program sukarelawan internasional di pedesaan Jawa Tengah.
Tekad Santoso, koordinator yayasan, menjelaskan bahwa sembilan siswa dan tiga guru dari Sekolah Maricolen, Brugge, Belgia, tidak hanya ikut serta dalam proyek pengecatan SD Negeri 2 Kemutug Lor, tetapi juga mengorbankan waktu pagi sejak pukul 04.00 WIB untuk proses rias dan latihan tari. “Mereka bersedia membiayai sendiri kebutuhan rias demi tampil sebagai penari lengger,” katanya, yang sekaligus berperan sebagai pelaku wisata di Baturraden.
Menurut Santoso, inisiatif ini jauh lebih dari sekadar hiburan. Sejak 2017, Yayasan Tileng mengirimkan sukarelawan Eropa ke Indonesia, namun program terhenti karena pandemi COVID‑19. Setelah kembali aktif pada 2022‑2023, program kini berfokus pada tiga minggu kegiatan sosial: renovasi empat SD, pembangunan empat TK, dan pendirian empat PAUD di Kabupaten Banyumas.
Namun, di balik niat baik itu, muncul pertanyaan kritis: Apakah penampilan Lengger Bule—yang menggabungkan penari lokal dengan warga asing—justru memperkuat stereotip “bule” sebagai objek wisata budaya, atau malah membuka ruang dialog yang lebih egalitarian? Beberapa pengamat budaya menilai bahwa penggunaan istilah “bule” dalam konteks seni tradisional bisa menimbulkan konotasi eksotisme yang berpotensi mereduksi nilai autentik tari lengger.
Salah satu relawan, Mieke, mengaku terpesona oleh keindahan alam Baturraden dan keramahan warga setempat. “Kami merasakan sambutan yang sangat hangat, dan kami senang bisa menjadi bagian dari budaya Indonesia,” ujarnya. Mieke menambahkan bahwa kuliner lokal—nasi goreng, mie, tempe, ayam, dan ragam buah—menjadi favoritnya selama dua pekan di Banyumas.
Festival dan Gregreb Suran Baturraden 2026 memang dirancang sebagai sarana pertukaran budaya, namun keberhasilan acara ini harus diukur bukan hanya dari jumlah wisatawan yang datang, melainkan dari dampak jangka panjang terhadap komunitas lokal. Apakah program sukarelawan ini memberikan kontribusi berkelanjutan bagi pendidikan dan infrastruktur desa, atau sekadar menjadi “showcase” sementara yang menutupi masalah struktural seperti kurangnya dana pemerintah daerah?
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai bahwa fenomena Lengger Bule mencerminkan dualitas kebijakan budaya Indonesia: di satu sisi, pemerintah daerah berupaya mempromosikan pariwisata berbasis budaya untuk meningkatkan pendapatan; di sisi lain, kurangnya regulasi jelas tentang kolaborasi seni lintas budaya membuka celah bagi praktik yang dapat menyinggung nilai-nilai lokal. Tanpa mekanisme evaluasi yang transparan, program seperti ini berisiko menjadi “soft power” yang lebih menguntungkan pihak sponsor atau lembaga asing daripada masyarakat penerima.
Selanjutnya, keberlanjutan proyek sosial yang dijanjikan—renovasi sekolah, pembangunan taman kanak‑kanak, dan PAUD—perlu dipertanggungjawabkan secara akuntabel. Data lapangan menunjukkan bahwa banyak proyek sukarelawan internasional berakhir setelah fase “show” selesai, meninggalkan infrastruktur yang belum terpakai atau kurang pemeliharaan. Pemerintah Kabupaten Banyumas harus menyiapkan mekanisme monitoring yang melibatkan tokoh masyarakat, bukan sekadar mengandalkan laporan yayasan.
Terakhir, fenomena eksotisasi budaya melalui label “bule” harus dihindari. Penggunaan istilah tersebut dalam konteks seni tradisional dapat menimbulkan persepsi bahwa kehadiran orang asing adalah sesuatu yang “lain” dan menarik semata, bukan mitra sejajar. Sebuah pendekatan yang lebih sensitif akan menekankan kolaborasi kreatif, di mana unsur asing dipadukan dengan rasa hormat terhadap nilai‑nilai lokal, bukan sekadar menjadi “gimmick” visual untuk menarik turis.
Jika dikelola dengan kebijakan yang transparan, partisipasi internasional seperti ini dapat menjadi contoh positif pertukaran budaya yang berkelanjutan. Namun, tanpa kontrol yang ketat, hal ini berpotensi menjadi sekadar atraksi sementara yang mengaburkan tantangan struktural yang lebih mendalam di wilayah pedesaan Jawa Tengah.
BERITA TERKAIT

UMKM Didorong Naik Kelas: Siti Fauziah Tekankan Legalitas, Branding, dan Pasar Global di Pasar Jadoel Reborn

Prabowo Sandingkan ‘Bakar‑Bakar’ Politik: Pengkhianatan Bangsa atau Karma yang Tak Terelakkan?
