Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

BPS Catat Lonjakan Harga Cabai 23,47 Persen, Ancam Stabilitas Inflasi Pangan Nasional

Berita NasionalAhmad HidayatAhmad HidayatSumber: Antara News
Ahmad Hidayat
Ahmad Hidayat
Analis Politik

Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

BPS Catat Lonjakan Harga Cabai 23,47 Persen, Ancam Stabilitas Inflasi Pangan Nasional
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Gejolak harga cabai kian menekan kantong konsumen menjelang akhir tahun, sebagaimana dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan kenaikan signifikan pada pekan keempat Oktober 2026.
  • Pada periode tersebut, harga cabai merah melonjak 23,47 persen dibandingkan September 2026, sementara cabai rawit mengalami kenaikan 12,49 persen dalam waktu yang sama.
  • Lebih mengkhawatirkan, perbandingan harga cabai rawit terhadap Desember 2025 telah mencapai 29,71 persen, sebuah tren kenaikan yang secara langsung memengaruhi daya beli rumah tangga dan indeks inflasi pangan.

Gejolak harga cabai kian menekan kantong konsumen menjelang akhir tahun, sebagaimana dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan kenaikan signifikan pada pekan keempat Oktober 2026. Pada periode tersebut, harga cabai merah melonjak 23,47 persen dibandingkan September 2026, sementara cabai rawit mengalami kenaikan 12,49 persen dalam waktu yang sama. Lebih mengkhawatirkan, perbandingan harga cabai rawit terhadap Desember 2025 telah mencapai 29,71 persen, sebuah tren kenaikan yang secara langsung memengaruhi daya beli rumah tangga dan indeks inflasi pangan.

Harga rata-rata nasional untuk cabai merah kini tercatat di level Rp88.642 per kilogram, angka yang jauh melampaui batas atas Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp57.000 per kilogram. Penyebaran kenaikan harga ini merata dan masif; data BPS mengonfirmasi bahwa lonjakan harga cabai merah terjadi di 327 kabupaten/kota, sedangkan cabai rawit terdampak di 269 wilayah. Tekanan inflasi akibat komoditas ini juga terasa di Jawa Timur, di mana inflasi bulanan Oktober 2026 tercatat 0,07 persen dan inflasi tahunan 3,09 persen, didorong oleh andil cabai merah sebesar 0,05 persen dan cabai rawit 0,02 persen.

Akar Masalah: Keterlambatan Musim Hujan dan Distribusi

Di balik angka-angka inflasi tersebut, terdapat faktor fundamental berupa keterlambatan musim hujan yang memutus pasokan dari hulu. BPS Jawa Timur mencatat bahwa sebagian besar wilayah provinsi belum memasuki musim hujan hingga Oktober 2026. Kondisi kekeringan dan cuaca kurang mendukung ini memicu kerusakan tanaman serta penurunan hasil panen, yang akhirnya menyebabkan kelangkaan pasokan di pasar. Secara nasional, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 mengalami kemunduran di 529 zona musim, mencakup 61,08 persen luas daratan Indonesia, sehingga memperparah ketimpangan produksi.

Untuk mengantisipasi dampak lanjutan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengingatkan bahwa permintaan cabai cenderung naik menjelang akhir tahun. Meskipun proyeksi pasokan nasional diperkirakan masih mencukupi, kelancaran distribusi dari sentra produksi ke wilayah konsumen menjadi kunci utama. Pemerintah perlu memastikan logistik bergerak tanpa hambatan agar harga dapat distabilkan kembali, mengingat cabai bersama tomat, labu siam, dan ikan bandeng merupakan komoditas pendorong inflasi utama saat ini.

Dampak Konsumsi dan Strategi Mitigasi

Bagi konsumen, kenaikan beberapa ribu rupiah per kilogram ini mengubah perhitungan dapur keluarga secara substansial, terutama bagi mereka yang menjadikan cabai sebagai pelengkap harian. Bagi pembuat kebijakan, volatilitas ini bukan sekadar isu pasar, melainkan ancaman langsung terhadap target pengendalian inflasi pangan. Strategi mitigasi saat ini berfokus pada pemantauan ketat rantai pasokan, mengingat keterlambatan musim hujan yang menjangkiti mayoritas zona pertanian di Indonesia.

Langkah nyata diperlukan untuk memitigasi risiko kelangkaan yang lebih parah di kuarta empat 2026. Kombinasi antara intervensi distribusi yang efisien dan pemantauan pasokan menjadi harapan utama agar lonjakan harga tidak berlanjut hingga akhir tahun, menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga di tengah tantangan cuaca ekstrem.

BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ