Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Rupiah Melemah Tipis ke Rp18.145 Ditopang Sentimen Minyak dan Perang Iran

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Market & Saham
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Rupiah Melemah Tipis ke Rp18.145 Ditopang Sentimen Minyak dan Perang Iran
BAGIKAN:

Pasar valuta asing Indonesia mengawali perdagangan Selasa (3/11/2026) dengan sentimen negatif, di mana rupiah dilaporkan melemah tipis 0,03% terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka di posisi Rp18.145/US$, melanjutkan tren pelemahan yang tercatat pada hari Senin saat kurs ditutup turun 0,11% ke level Rp18.140/US$. Di sisi lain, indeks dolar AS atau DXY terpantau menguat tipis 0,05% ke posisi 101,799 pada pukul 09.00 WIB, berbalik arah setelah sebelumnya ditutup melemah 0,13% dalam perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah pagi ini belum berhasil memanfaatkan potensi keuntungan dari penurunan harga minyak dunia. Meskipun harga minyak global terkoreksi signifikan, penguatan tipis indeks dolar masih membatasi ruang gerak rupiah. Secara fundamental, pergeseran ini terjadi di tengah dinamika geopolitik yang kompleks, di mana ekspektasi terhadap penyelesaian konflik di Timur Tengah turut memengaruhi arus modal global.

Koreksi Minyak dan Imbal Hasil Obligasi AS

Faktor pemicu utama koreksi pasar energi adalah pernyataan dari Iran yang menegaskan bahwa komunikasi dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung delapan bulan masih terus berlanjut. Informasi tersebut meredakan kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan energi global. Sebagai konsekuensinya, harga minyak Brent tercatat merosot lebih dari 7% pada perdagangan Senin, menandai penurunan harian terdalam dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan harga komoditas energi ini secara langsung membantu meredakan kekhawatiran inflasi global, yang pada gilirannya menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury.

Penurunan imbal hasil obligasi AS membuka ruang bagi penguatan mata uang lainnya, termasuk rupiah. Secara spesifik, data menunjukkan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 4,9145%, sedangkan tenor 30 tahun tercatat di level 5,2868%. Kedua angka ini sebelumnya telah turun ke posisi terendah dalam hampir dua bulan. Bagi Indonesia sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, energi yang lebih murah berpotensi meredakan tekanan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor, sehingga secara teoretis memberikan dukungan bagi penguatan rupiah.

Respons Pasar Global dan Analisis Ahli Strategi

Terlepas dari fundamental yang membaik di sektor energi, ruang penguatan rupiah masih dibayangi kehati-hatian para investor global. Tekanan utama berasal dari kekhawatiran pasar terhadap sektor saham terkait kecerdasan buatan (AI) serta ketidakpastian yang melingkupi pelemilan sela AS. Kombinasi risiko tersebut menyebabkan dolar AS tetap menjadi aset yang diminati sebagai tempat berlindung yang aman (safe haven). Situasi ini membuat mata uang AS tetap mendapat dukungan di tengah volatilitas pasar global.

Menanggapi dinamika tersebut, Sim Moh Siong, ahli strategi valuta asing di OCBC, memberikan analisis mendalam dalam catatannya. "Harga energi yang lebih murah mengubah dinamika pasar valuta asing, sementara kekhawatiran mengenai AI dan risiko pemilu AS memperkuat pandangan kami bahwa dolar AS masih mendapat dukungan," ujar Sim. Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun ada sentimen positif dari sektor energi, dominasi dolar AS di pasar global masih sulit untuk digoyahkan dalam jangka pendek.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸