Risiko Cedera Kaki Misterius Pasca-Maraton: Bahaya Sesamoid, Kuboid, dan Navikular yang Sering Diabaikan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Jakarta (ANTARA) – Bagi para pelari maraton, garis finis sering kali memicu euforia, namun dapat diiringi oleh gejala cedera yang samar dan berpotensi serius.
- Cedera pada tulang sesamoid atau yang dikenal sebagai sesamoiditis memerlukan penanganan khusus.
- Jika tulang mengalami retak, pasien diwajibkan memakai sepatu bot khusus selama empat hingga enam minggu.
Jakarta (ANTARA) – Bagi para pelari maraton, garis finis sering kali memicu euforia, namun dapat diiringi oleh gejala cedera yang samar dan berpotensi serius. Dr. Jeffrey Baker, ahli podiatri dari Weil Foot & Ankle Institute di Chicago, mengidentifikasi risiko cedera pada tulang sesamoid, dua tulang kecil di bawah ibu jari kaki yang berfungsi menopang dorongan tubuh saat berlari. Meskipun jarang terjadi pada populasi umum, cedera ini cukup umum ditemukan pada pelari, terutama mereka dengan lengkungan kaki tinggi yang kaku sehingga tidak mampu meredam benturan secara optimal, melainkan memusatkan beban pada tumit dan bantalan kaki depan.
Cedera pada tulang sesamoid atau yang dikenal sebagai sesamoiditis memerlukan penanganan khusus. Jika tulang mengalami retak, pasien diwajibkan memakai sepatu bot khusus selama empat hingga enam minggu. Namun, apabila hanya mengalami peradangan, penanganan dapat dilakukan melalui kompres es, konsumsi obat antiinflamasi, menghindari berjalan tanpa alas kaki, serta beralih sementara ke latihan berdampak rendah. Bakertidak menyarankan pengabaian gejala karena lokasi lesi yang spesifik dapat mempengaruhi mobilitas jangka panjang.
Patofisiologi dan Manajemen Cedera Otot-Rangka pada Pelari
Selain masalah pada ibu jari, sindrom kuboid menjadi ancaman lain yang sering kali didiagnosis keliru. Tulang kuboid, yang berbentuk persegi di sisi luar kaki, dapat bergeser dari posisinya ke arah lateral, menimbulkan nyeri yang mengganggu antara tumit dan jari kelingking. Baker menjelaskan bahwa teknik cuboid whip dapat diterapkan untuk mengembalikan tulang tersebut ke posisi normal. Di sisi lain, fraktur pada tulang navikular di bagian belakang kaki menjadi tantangan besar karena tulang berbentuk ginjal ini memiliki pasokan darah yang terbatas. Sirkulasi darah yang buruk ini menghambat perbaikan kerusakan mikro akibat beban latihan intensitas tinggi, sering memicu nyeri di lengkungan bagian dalam kaki.
Progresi penyembuhan fraktur navikular akibat tekanan berulang memakan waktu lama, dan dalam banyak kasus, pelari memerlukan intervensi pembedahan. Baker menekankan pentingnya diferensiasi gejala klinis: kemerahan, rasa hangat, pembengkakan, serta ketidakmampuan menopang berat badan adalah tanda peringatan keras untuk segera menemui dokter. Sebaliknya, rasa pegal ringan tanpa gejala inflamasi lokal kemungkinan besar merupakan tendinitis akibat penggunaan berlebihan, yang harus diwaspadai jika tidak membaik dalam dua hingga tiga hari.
Protokol Preventif dan Konsekuensi Memaksakan Diri Melanjutkan Lari
Untuk mitigasi risiko, para atlet disarankan mengatur intensitas latihan serta menguji perlengkapan lari beberapa minggu sebelum hari-H. Dr. Mario Porciello-Donnarumma, spesialis kaki dari Balance Health di University Foot & Ankle Institute California Selatan, merekomendasikan penggunaan sepatu lari baru minimal empat hingga enam minggu sebelum perlombaan agar tubuh dan peralatan telah beradaptasi. Protokol preventif ini mencakup:
- Mengurangi beban latihan saat mendekati hari lomba
- Mengidentifikasi tanda bahaya seperti bengkak dan panas lokal
- Konsultasi podiatri jika nyeri persisten lebih dari 48-72 jam
Implikasi mengabaikan cedera pada hari perlombaan sangat fatal. Porciello-Donnarumma mengingatkan bahwa memaksakan diri mencapai finis dalam kondisi cedera dapat memperparah kerusakan secara instan. Aksi memikul beban pada kaki yang terluka dapat mengubah kondisi yang seharusnya dapat ditangani secara konservatif menjadi keadaan darurat yang mengharuskan operasi. Oleh karena itu, keputusan untuk berhenti berlari dan mencari pertolongan medis saat terjadi anomali fisik merupakan prioritas utama untuk mencegah konsekuensi kesehatan jangka panjang bagi para peserta maraton.
BERITA TERKAIT (Kesehatan)

Kemenkes Dorong Kolaborasi 22 Negara Atasi Defisit 10 Juta Tenaga Kesehatan Global

Transformasi Layanan Kesehatan di Kei Besar: Pertamina Persembahkan Operasi Gratis Lewat RS Kapal

Ahli Gizi Peringatan: Ketiduran Waktu Tidur Acak Berpotensi Naikkan Risiko Hipertensi dan Gangguan Jantung
