Kemenkes Dorong Kolaborasi 22 Negara Atasi Defisit 10 Juta Tenaga Kesehatan Global

- Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus , menegaskan bahwa investasi pada sumber daya manusia (SDM) kesehatan harus menjadi prioritas utama setiap negara.
- Ia menekankan bahwa tenaga kesehatan yang terlatih dan berdedikasi merupakan fondasi krusial bagi pelayanan kesehatan berkualitas.
- "Kita memerlukan tata kelola yang lebih kuat, pendidikan kesehatan yang lebih baik, dan transformasi digital.
Kementerian Kesehatan bersama Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) menggelar Konferensi AAAH ke-14 di Bali, mempertemukan jaringan dari 22 negara untuk memperkuat strategi kolaboratif dalam mengatasi krisis kekurangan dan ketimpangan distribusi tenaga kesehatan. Langkah strategis ini diambil mengingat proyeksi global yang menunjukkan adanya defisit sekitar 10 juta tenaga kesehatan pada tahun 2030, dengan dampak terbesar dirasakan oleh negara-negara berpenghasilan rendah hingga menengah.
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan bahwa investasi pada sumber daya manusia (SDM) kesehatan harus menjadi prioritas utama setiap negara. Ia menekankan bahwa tenaga kesehatan yang terlatih dan berdedikasi merupakan fondasi krusial bagi pelayanan kesehatan berkualitas. "Kita memerlukan tata kelola yang lebih kuat, pendidikan kesehatan yang lebih baik, dan transformasi digital. Kita juga harus memperkuat kerja sama regional, berbagi pengetahuan, dan saling belajar dari pengalaman satu sama lain," ujar Wamenkes dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa.
Tantangan Kompleks dan Tiga Pilar Transformasi
Ketua AAAH, Anna Kurniati, menjelaskan bahwa tantangan kesehatan saat ini semakin kompleks, mencakup peningkatan populasi lansia, beban penyakit tidak menular, munculnya penyakit infeksi baru, hingga dampak perubahan iklim. Untuk merespons hal tersebut, konferensi ini mengedepankan tiga pilar utama yang saling berkaitan:
- Pemimpinan dan Tata Kelola: Penguatan perencanaan dan implementasi kebijakan yang melibatkan seluruh elemen pemerintah dan masyarakat.
- Pendidikan dan Kesejahteraan: Pemastian pendidikan berkualitas serta dukungan kesejahteraan tenaga kesehatan sepanjang perjalanan karier.
- Transformasi Digital: Pemanfaatan telemedicine dan rekam medis elektronik secara bertanggung jawab, inklusif, dan berkeadilan.
Hal ini sejalan dengan peringatan Direktur Regional WHO untuk Pasifik Barat, Dr. Saia Maโu Piukala, yang mengingatkan pentingnya menjaga hubungan kepercayaan antara tenaga kesehatan dan pasien. "Saya dulu adalah seorang dokter bedah, dan saya paham betul apa artinya ketika seorang ibu membawa anaknya yang sakit kepada Anda... Kita tidak boleh merusak kepercayaan itu karena setiap pasien berhak mendapatkan yang terbaik," ungkap Dr. Saia.
Menutup Kesenjangan Distribusi di Indonesia
Dalam konteks nasional, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pemerataan tenaga kesehatan. Data Kementerian Kesehatan mengungkap fakta kritis bahwa sekitar 37 persen puskesmas belum memiliki sembilan jenis tenaga kesehatan prioritas secara lengkap, sementara 41 persen rumah sakit umum daerah kabupaten/kota belum memenuhi kualifikasi tujuh dokter spesialis dasar.
Untuk mengatasi hambatan struktural tersebut, Kemenkes memanfaatkan Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan untuk memetakan distribusi dan memproyeksikan kebutuhan tenaga kesehatan secara spesifik. Upaya ini memprioritaskan wilayah dengan keterbatasan akses tinggi, seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Melalui konferensi AAAH ke-14 ini, Indonesia dan 21 negara mitra menargetkan lahirnya rekomendasi kebijakan strategis untuk meningkatkan keselamatan tenaga kesehatan serta memperluas inovasi digital, guna memastikan tersedianya pelayanan kesehatan yang aman dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.
BERITA TERKAIT (Kesehatan)

Mitos Stres Diberbantahkan: Riset Ungkap Empat Manfaat Tersembunyi bagi Fungsi Kognitif dan Imunitas

Transformasi Layanan Kesehatan di Kei Besar: Pertamina Persembahkan Operasi Gratis Lewat RS Kapal

Ahli Gizi Peringatan: Ketiduran Waktu Tidur Acak Berpotensi Naikkan Risiko Hipertensi dan Gangguan Jantung
