Pesan Terakhir Kopilot Learjet 60 Terungkap: 'Kami Akan Menghantam Tanah' Sebelum 9 Penumpang Tewas di Florida

- Rekaman komunikasi radio antara menara kontrol lalu lintas udara (ATC) dan pesawat Learjet 60 mengungkapkan momen genting sebelum jatuhnya pesawat tersebut di Palm Beach County, Florida , pada Minggu (1/11).
- Laporan awal dari The Associated Press menegaskan bahwa kondisi tersebut awalnya dianggap masih terkendali, namun situasi berubah drastis hanya dalam hitungan menit.
- Insiden tragis ini menelan korban jiwa sebanyak sembilan orang yang berada di dalam pesawat, termasuk pilot utama Jeff Gregory .
Rekaman komunikasi radio antara menara kontrol lalu lintas udara (ATC) dan pesawat Learjet 60 mengungkapkan momen genting sebelum jatuhnya pesawat tersebut di Palm Beach County, Florida, pada Minggu (1/11). Nathalia Filgueiras, yang teridentifikasi sebagai kopilot, melaporkan serangkaian masalah teknis kritis mulai dari pembentukan es pada sayap hingga turbulensi sedang saat pesawat berada di ketinggian 35.000 kaki. Laporan awal dari The Associated Press menegaskan bahwa kondisi tersebut awalnya dianggap masih terkendali, namun situasi berubah drastis hanya dalam hitungan menit.
Insiden tragis ini menelan korban jiwa sebanyak sembilan orang yang berada di dalam pesawat, termasuk pilot utama Jeff Gregory. Pesawat jet pribadi buatan Bombardier itu awalnya berangkat dari Bandara Internasional Austin-Bergstrom untuk mengangkut keluarga serta kerabat seorang pengusaha teknologi informasi menuju Bahama. Menurut catatan, Filgueiras, yang baru berusia 20 tahun dan memperoleh lisensi pilot saat masih sekolah menengah, sempat meminta izin untuk meningkatkan ketinggian guna mencari kondisi udara yang lebih stabil sebelum bencana terjadi.
Kronologi Panik di Udara: Laju Turun Mencapai 22.000 Kaki per Menit
Transkrip audio dari situs pemantau Live ATC merekam eskalasi panik yang cepat. Setelah beberapa saat mencoba menstabilkan pesawat, Filgueiras menghubungi ATC kembali dengan suara yang mulai terganggu, melaporkan bahwa mereka sedang dalam kondisi mayday dan menukik dengan kecepatan 10.000 kaki per menit dari ketinggian 8.000 kaki. Situasi semakin memburuk ketika ia melaporkan pesawat mengalami overspeed dengan laju penurunan yang dipercepat menjadi 20.000 kaki per menit, dan segera dikoreksinya menjadi 22.000 kaki per menit, sebuah angka yang menunjukkan kehilangan kendali total.
Pesan terakhir yang tercatat menjadi rekam sejarah aviasi yang memilukan. Filgueiras menyatakan dengan jelas, "Kami akan menghantam tanah," sebelum komunikasi berakhir dengan frasa fatal: "waktu kami sudah habis." Penyebab teknis spesifik kecelakaan belum dipastikan secara definitif oleh pihak berwenang, namun jejak komunikasi ini memberikan petunjuk berharga bagi para penyelidik mengenai dinamika kegagalan sistem yang terjadi di udara.
Dampak dan Respons Pejabat Florida: Korban Jiwa Terkonfirmasi
Menanggapi jatuhnya pesawat di area Green Acres, Florida, Gubernur Florida Ron DeSantis telah mengonfirmasi bahwa seluruh penumpang dan awak pesawat tewas. DeSantis juga memastikan tidak ada korban luka maupun jiwa di darat, meskipun lokasi jatuh pesawat berada di dekat jalan raya dan pemukiman warga. Fakta bahwa pesawat jatuh di area padat namun tidak menimbulkan korban tambahan di darat menjadi catatan penting dalam evaluasi dampak bencana.
Diketahui bahwa Learjet 60 tersebut dimiliki oleh sebuah perusahaan yang terdaftar di Delaware. Bombardier, produsen pesawat, menyatakan dukungan penuh terhadap proses investigasi yang sedang berlangsung. Kejadian ini menyoroti kembali urgensi protokol darurat dalam penerbangan komersial dan pribadi, khususnya ketika menghadapi anomali cuaca ekstrem seperti lapisan es yang dapat memicu kehilangan kendali secara tiba-tiba pada ketinggian jelajah tinggi.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Korea Utara Tolak Tuduhan FBI Soal Peretasan Binance, Kim Yo Jong Sebut Klaim AS Retorika Absurd

Gelombang Besar Pemilih AS Hadiri TPS Pemilu Sela, Dinamika Politik Global Dipertaruhkan

Lukashenko Dorong Donald Trump Jadi Sekjen PBB untuk Bersihkan 'Rawa-Rawa' Organisasi
