Jelang Rilis PDB, Ekonomi RI Didukung PMI Manufaktur Terkuat 2 Tahun & Surplus Neraca Dagang

Ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang solid menjelang pengumuman pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III-2026 pada 5 November mendatang. Tiga indikator makroekonomi utama kompak menguat, dipimpin oleh lonjakan Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang mencapai 54,0 pada Oktober 2026, menandai ekspansi terkuat dalam lebih dari dua tahun terakhir. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa capaian ini menjadi sinyal positif ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Penguatan manufaktur ini tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan beriringan dengan inflasi yang terjaga dan neraca perdagangan yang kembali mencatatkan surplus. Kombinasi ketiga pilar ini memberikan fondasi yang kuat bagi prospek ekonomi Indonesia, meskipun besaran pertumbuhan PDB belum dapat disimpulkan secara otomatis hanya dari data tersebut.
Akselerasi Permintaan dan Rekor Ekspor
PMI Manufaktur naik dari 52,4 pada September menjadi 54,0, didorong oleh peningkatan permintaan baru yang mencapai laju tercepat dalam lima tahun terakhir. Bahkan, pertumbuhan pesanan ekspor baru mencatatkan rekor tertinggi sejak survei dimulai pada April 2011. Hal ini mendorong aktivitas produksi tumbuh paling kuat sejak Maret 2024, sementara pelaku industri meningkatkan pembelian bahan baku dan persediaan. Di sisi eksternal, neraca perdagangan September 2026 mencatatkan surplus US$3,36 miliar untuk ketiga kalinya berturut-turut, ditopang ekspor sebesar US$27,59 miliar yang tumbuh 11,87% secara tahunan (yoy). Kenaikan ini didorong oleh harga komoditas utama seperti batu bara, gas alam, dan minyak kelapa sawit, serta implementasi 25 perjanjian perdagangan internasional yang telah berlaku.
- PMI Manufaktur Oktober 2026: 54,0 (naik dari 52,4 di September).
- Surplus Neraca Perdagangan September 2026: US$3,36 miliar.
- Nilai Ekspor September 2026: US$27,59 miliar (tumbuh 11,87% yoy).
Stabilitas Harga dan Langkah Antisipasi Pemerintah
Dari sisi stabilitas harga, inflasi Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23% yoy, masih berada dalam sasaran nasional 2,5% plus minus 1%. Namun, tekanan harga pada kelompok pangan bergejolak (volatile food) meningkat menjadi 5,81% yoy akibat fenomena El Niño yang memengaruhi produksi hortikultura seperti cabai dan tomat. Sebagai respons, pemerintah akan memperkuat antisipasi gangguan produksi dan distribusi pangan menjelang Natal dan Tahun Baru melalui optimalisasi irigasi, pengaturan pola tanam, serta penguatan sistem peringatan dini. Airlangga menyatakan pemerintah akan melanjutkan instrumen pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui program magang untuk menjaga daya beli dan kepastian usaha.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

IHSG Anjlok 3% ke 4.942, Tekanan Jual Dominasi di Tengah Pemilu Sela AS & Anjloknya Harga Minyak

OJK Targetkan Empat Bank Syariah Selevel BSI untuk Kuatkan Industri Keuangan Nasional

Aksi Jual Asing Masif Berbuah Maut, IHSG Jebol di Bawah 5.000 Sesi I
