Aksi Jual Asing Masif Berbuah Maut, IHSG Jebol di Bawah 5.000 Sesi I
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam hingga penutupan sesi I perdagangan Selasa (3/11/2026), setelah berhasil menyentuh level puncak intraday 5.143,58 pada pembukaan pagi.
- Berdasarkan data RTI Business, indeks utama bursa tersebut melemah 2,62% dan kembali jatuh ke level 4.963,06 , memutus harapan investor untuk mempertahankan posisi psikologis di atas angka 5.000.
- Gejolak pasar ini didorong oleh dominasi aksi jual investor asing (foreign sell) yang masif sepanjang paruh pertama perdagangan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam hingga penutupan sesi I perdagangan Selasa (3/11/2026), setelah berhasil menyentuh level puncak intraday 5.143,58 pada pembukaan pagi. Berdasarkan data RTI Business, indeks utama bursa tersebut melemah 2,62% dan kembali jatuh ke level 4.963,06, memutus harapan investor untuk mempertahankan posisi psikologis di atas angka 5.000.
Gejolak pasar ini didorong oleh dominasi aksi jual investor asing (foreign sell) yang masif sepanjang paruh pertama perdagangan. Volume transaksi tercatat mencapai 14,82 miliar lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp 5,57 triliun. Secara distribusi, sebanyak 542 saham mengalami pelemahan, melampaui 94 saham yang menguat, sementara 79 saham lainnya stagnan. Indeks LQ45 juga turut tertekan, melemah 2,5% ke level 504,916.
Dominasi Keluar dari Sektor BUMN
Analisis data Stockbit mengungkap bahwa aksi jual bersih asing secara spesifik tertuju pada emiten milik negara. Pada sesi I hari ini, tercatat net foreign sell sebesar Rp 831,55 miliar, di mana total penjualan asing mencapai Rp 2,44 triliun, melampaui total pembelian asing yang hanya Rp 1,61 triliun.
Tiga emiten yang paling banyak diborong investor asing adalah:
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Net sell Rp 173,45 miliar
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Net sell Rp 95,77 miliar
- PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM): Net sell Rp 69,40 miliar
Gerak Selektif pada Bank Pelat Merah
Sementara sektor perbankan dan tambang menjadi tempat pembuangan dana asing, arus masuk justru terjadi pada tiga emiten perbankan lainnya yang juga berstatus plat merah. Data menunjukkan tiga besar net foreign buy didominasi oleh bank-bank besar berikut:
- PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS): Net buy Rp 37,87 miliar
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Net buy Rp 27,88 miliar
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI): Net buy Rp 16,63 miliar
Pola pergerakan ini mengindikasikan rotasi modal asing di dalam indeks, di mana mereka menarik dana dari emiten yang dianggap terlalu berisiko saat koreksi, lalu menaruhnya pada bank-bank besar tertentu sebagai pelindung nilai. Ketidakseimbangan antara volume jual dan beli yang signifikan ini menjadi sinyal peringatan bagi pelaku pasar untuk memitigasi risiko volatilitas pada sesi II perdagangan hari ini.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

IHSG Ditembus Support Krusial, Analis Proyeksi Koreksi Lanjut ke Level 4.763

OJK Cabut Izin Usaha BPR Agritrans Batumarta Sumsel, LPS Ambil Alih Proses Likuidasi

Raffi Ahmad Hadapi Kisruh RANS Carnival: Manajemen Klaim Tak Ada Pengarahan Warga
