Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Di Tengah Eskalasi Perang Arab, Laba Saudi Aramco Melonjak 34,6% di Kuartal III-2026

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Market & Saham
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Di Tengah Eskalasi Perang Arab, Laba Saudi Aramco Melonjak 34,6% di Kuartal III-2026
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Saudi Aramco membukukan kinerja keuangan yang impresif dengan meraih laba bersih sebesar 135,9 miliar riyal, setara dengan sekitar Rp655 triliun, pada kuartal III-2026.
  • Angka ini melonjak signifikan sebesar 34,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana laba perusahaan tercatat sekitar 101 miliar riyal atau Rp486 triliun.
  • Lonjakan keuntungan ini kontras dengan risiko keamanan yang melanda infrastruktur energi negara penghasil minyak terbesar di dunia tersebut.

Saudi Aramco membukukan kinerja keuangan yang impresif dengan meraih laba bersih sebesar 135,9 miliar riyal, setara dengan sekitar Rp655 triliun, pada kuartal III-2026. Angka ini melonjak signifikan sebesar 34,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana laba perusahaan tercatat sekitar 101 miliar riyal atau Rp486 triliun. Peningkatan tajam ini terjadi di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang kian memanas, di mana harga minyak mentah dunia berhasil bertahan pada level tinggi, memberikan angin segar bagi kinerja sektor hulu energi kerajaan Arab Saudi.

Lonjakan keuntungan ini kontras dengan risiko keamanan yang melanda infrastruktur energi negara penghasil minyak terbesar di dunia tersebut. Sejak konflik kembali memanas pada Juli lalu, kelompok Houthi di Yaman yang didukung oleh Iran dilaporkan melakukan serangkaian serangan berulang kali. Target serangan tidak hanya sebatas kapal tanker, tetapi juga menyasar jaringan pipa, fasilitas penyimpanan, hingga kilang minyak milik Saudi. Intensitas serangan ini bahkan meningkat dalam beberapa pekan terakhir, menciptakan ketidakpastian yang tinggi bagi stabilitas produksi dan distribusi energi di kawasan.

Tekanan Keamanan Mengancam Jalur Pelayaran Strategis

Gangguan pada infrastruktur energi tidak berhenti di darat. Jalur pelayaran strategis yang menjadi nadi ekspor minyak global, yakni Selal Bab al-Mandeb dan Selal Hormuz, juga mengalami hambatan signifikan. Aktivitas pelayaran di kedua kawasan tersebut terganggu oleh manuver militer Houthi dan Iran, menambah kompleksitas tantangan bagi kelancaran ekspor energi. Meskipun manajemen Aramco mampu meraup keuntungan besar berkat harga minyak yang tinggi, mereka menegaskan bahwa konflik yang berkepanjangan memberikan tekanan berat terhadap keamanan pasokan energi global secara keseluruhan.

Implikasi Krisis Pasokan dan Respons Manajemen

Situasi ini juga berdampak positif bagi sejumlah perusahaan energi besar dunia lainnya, di mana gangguan pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah mendorong kenaikan harga komoditas energi, sekaligus memperlebar margin bisnis pengolahan atau kilang. Namun, Presiden sekaligus CEO Aramco Amin H. Nasser memberikan peringatan keras dalam pernyataannya yang dikutip oleh AFP. "Ketidakpastian geopolitik dan serangan terhadap fasilitas energi utama terus memperburuk krisis pasokan energi global pada kuartal III-2026, dengan implikasi serius terhadap keamanan energi dunia," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun laba bersih meroket, lanskap energi global masih berada dalam zona rawan yang membutuhkan kehati-hatian ekstra.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ