IHSG Turun 1% di Sesi I, Sentimen KSSK dan Gejolak Global Jadi Pemicu Utama
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pertumbuhan pasar modal domestik terhenti tajam pada sesi I perdagangan Selasa (3/11/2026), saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 51,75 poin atau 1,02% ke level 5.045,08. Pergerakan indeks ini berbanding terbalik dengan pembukaan yang seharusnya menjanjikan, di mana IHSG sempat dibuka di 5.126,53 dan menyentuh level tertinggi intraday di 5.143,58 sebelum berubah arah secara drastis hanya dalam hitungan menit akibat tekanan jual masif.
Pergeseran sentimen terjadi setelah indeks gagal bertahan di ambang 5.080 dan 5.060, akhirnya menyentuh area terendah intraday di 5.044,90. Secara fundamental, tekanan ini dipicu oleh anjloknya beberapa sektor kunci, termasuk sektor konsumer kritikal yang turun 1,8%, sektor energi melemah 1,5%, dan sektor infrastruktur merosot 1,4%. Volume transaksi tercatat mencapai 64,45 juta lot dengan nilai Rp2,4 triliun.
Gejolak Pasar: Dari KSSK hingga Pemilu Sela AS
Selain faktor internal, pasar dibayangi sejumlah sentimen global yang signifikan. Secara domestik, publik menanti hasil rapat komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang diharapkan memberikan kejelasan arah kebijakan keuangan di kuartal III serta menjawab keresahan terkait kejatuhan pasar modal dan rupiah. Dari eksternal, fokus beralih ke pemilu sela Amerika Serikat di mana Partai Demokrat berupaya merebut kendali Kongres dari Presiden Donald Trump. Data menunjukkan lebih dari 57 juta warga AS sudah memberikan suara lebih awal, melampaui angka 46 juta pada pemilu sela 2022.
Berikut adalah rincian saham yang mempengaruhi pergerakan indeks saat ini:
- Saham pemberat IHSG: PT Mora Telematika Indonesia (MORA), PT Bayan Resources (BYAN), PT Telkom Indonesia (TLKM), PT Adaro Andalan Indonesia (AADI), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ).
- Saham penekan koreksi IHSG: PT Barito Renewables Energy (BREN), PT Bank Central Asia (BBCA), PT Chandra Asri Pacific (TPIA), PT Bumi Resources Minerals (BRMS), dan PT Bumi Resources (BUMI).
Dampak Harga Minyak anjlok dan Kinerja Manufaktur China
Dari sisi komoditas, anjloknya harga minyak mentah dunia menjadi katalis positif bagi Indonesia sebagai importir neto. Minyak Brent turun 7,63% ke US$104,77 per barel dan WTI merosot 7,36% ke US$96,46, menyusul pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang menegaskan Teheran akan mengakhiri konflik melalui dialog. Penurunan ini diharapkan dapat meringankan tekanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta inflasi.
Sementara itu, dari sisi ekonomi Asia, PMI Manufaktur China versi RatingDog melandai tipis menjadi 52,0 pada Oktober 2026 dari 52,1 di September. Meski melemah, angka ini masih mencatatkan ekspansi untuk 11 bulan berturut-turut dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 51,6. Dengan kondisi global yang penuh dinamika, arah IHSG diprediksi akan tetap volatil, bergantung pada respons kebijakan KSSK dan eskalasi politik di Amerika Serikat yang dapat mengubah arah investasi global.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Di Tengah Eskalasi Perang Arab, Laba Saudi Aramco Melonjak 34,6% di Kuartal III-2026

Jelaskan Isu Karhutla Singapura, KEEN Tegaskan Tidak Terlibat Secara Hukum maupun Operasional

Tekanan Besar di Sesi I: Dana Asing Cabut Rp831,55 M, Saham BBRI dan TLKM Jadi Sasaran Utama
