IHSG Melemah ke 5.065,61, Pasar Cermati Perang Dagang AS-Iran dan Data Ekspansi PMI Manufaktur
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

IHSG Bursa Efek Indonesia mengalami koreksi tipis menjadi 5.065,61 pada Selasa pagi, merespons ketidakpastian global di tengah optimisme domestik yang ditopang oleh ekspansi manufaktur. Indeks LQ45 turut terkoreksi 0,34 persen ke 516,12, sementara pelaku pasar menimbang sejumlah sentimen geopolitik dan data ekonomi makro yang dirilis sepanjang pekan ini.
Pergerakan indeks yang dibuka menguat kemudian berbalik melemah 31,22 poin atau 0,61 persen menjadi 5.065,61 pukul 09.50 WIB. Di sisi lain, data ekonomi domestik menunjukkan sinyal positif dengan PMI manufaktur melonjak menjadi 54, tertinggi sejak Maret 2024, serta neraca perdagangan yang mencatatkan surplus kumulatif Januari-September 2026 sebesar 10,61 miliar dolar AS.
Sentimen Global: Dolar AS dan Dinamika Geopolitik
Fokus utama pasar kini beralih ke mancanegara, di mana prospek hubungan antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan perkembangan konstruktif melalui jalur diplomasi. Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran ingin mencapai kesepakatan, didukung oleh pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menegaskan preferensi penyelesaian damai dibandingkan tindakan militer.
Sementara itu, Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga kebijakan di level 1,25 persen, sesuai ekspektasi pasar, mengindikasikan sikap moneter yang belum berubah di tengah dinamika ekonomi dan inflasi. Bursa Wall Street pada Senin (02/11) bergerak variatif, dengan S&P 500 turun 0,5 persen ke 7.542,92, sementara Dow Jones naik 0,4 persen ke 51.986,30. Bursa Eropa kompak menguat, dengan DAX naik 0,63 persen dan Euro Stoxx 50 menguat 0,78 persen.
Prediksi Analis dan Penopang Data Ekonomi Dalam Negeri
Liza Camelia, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, memperkirakan IHSG berpotensi bergerak di kisaran resistance 5.182, 5.249, atau 5.268. Namun, jika skenario kembali volatile melemah, indeks rentan menguji support terdekat di 4.980 atau 4.907. “Jika breakdown IHSG bisa lanjut menuju support terdekat 4.800,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta.
Di dalam negeri, kinerja ekonomi Indonesia menunjukkan penguatan signifikan pada Oktober 2026, tercermin dari PMI manufaktur yang meningkat menjadi 54 dari 52,4 pada bulan sebelumnya, atau level ekspansi tertinggi sejak Maret 2024. Neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 mencatatkan surplus 3,36 miliar dolar AS, sehingga surplus kumulatif Januari-September 2026 mencapai 10,61 miliar dolar AS. Adapun, nilai ekspor nasional tumbuh 5,58 persen (yoy) menjadi 221,23 miliar dolar AS. Inflasi Oktober tercatat sebesar 3,23 persen (yoy) dan 0,22 persen (mtm), dengan inflasi tahun kalender sebesar 2,4 persen atau masih berada dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 2,5 plus minus 1 persen.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Jelaskan Isu Karhutla Singapura, KEEN Tegaskan Tidak Terlibat Secara Hukum maupun Operasional

Tekanan Besar di Sesi I: Dana Asing Cabut Rp831,55 M, Saham BBRI dan TLKM Jadi Sasaran Utama

KKP Targetkan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih dan 4.582 Kapal untuk Dongkrak Kesejahteraan hingga 2029
