IGA 2026: Kemendagri Dorong Pemda Jadikan Inovasi Sebagai Budaya Kerja, 48.246 Inovasi dari 541 Daerah Ikut Seleksi
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Wiyagus menegaskan, esensi IGA tidak berhenti pada pemberian penghargaan.
- Ajang tersebut harus menjadi pemantik bagi Pemda untuk terus menciptakan, mereplikasi, dan memperluas manfaat praktik baik.
- Ia mengingatkan, ruang kreativitas yang diberikan perlu dimanfaatkan Pemda untuk menyelesaikan persoalan secara kontekstual, terukur, dan bertanggung jawab.
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menjadikan Innovative Government Award (IGA) 2026 sebagai momentum strategis mendorong pemerintah daerah menjadikan inovasi sebagai budaya kerja, bukan sekadar ajang penghargaan. Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus menyampaikan pesan tersebut saat mewakili Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian membuka kegiatan Presentasi Kepala Daerah sebagai bagian dari rangkaian seleksi pemenang IGA 2026, yang digelar secara hybrid dari Command Center Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN), Jakarta, pada Selasa (3/11/2026).
Wiyagus menegaskan, esensi IGA tidak berhenti pada pemberian penghargaan. Ajang tersebut harus menjadi pemantik bagi Pemda untuk terus menciptakan, mereplikasi, dan memperluas manfaat praktik baik. Ia mengingatkan, ruang kreativitas yang diberikan perlu dimanfaatkan Pemda untuk menyelesaikan persoalan secara kontekstual, terukur, dan bertanggung jawab. "Inovasi ini bukan sekadar aplikasi baru, kegiatan baru, atau perubahan nama program. Tapi inovasi ini adalah cara baru yang lebih efektif untuk menghasilkan nilai untuk publik," kata Wiyagus.
Fokus Perkuat Ekosistem Inovasi dan Kemandirian Fiskal Daerah
Wiyagus menyoroti sejumlah aspek yang masih perlu diperkuat di Indonesia, mulai dari produktivitas, kualitas kelembagaan, pengembangan teknologi, hingga kemampuan mengubah pengetahuan menjadi nilai ekonomi. Karena itu, ekosistem inovasi perlu dibangun secara konsisten melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan media. Pemda juga diminta membuka ruang bagi para inovator untuk mengembangkan dan mereplikasi praktik yang telah terbukti berhasil.
- Inovasi diharapkan mampu menghadirkan solusi atas persoalan daerah dengan melibatkan aparatur dan masyarakat
- Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) harus didukung pendataan yang akurat, administrasi modern, perluasan basis penerimaan, serta perbaikan layanan
- Sinergi pusat dan daerah harus terlihat dalam proyek yang saling menguatkan, pengurangan hambatan investasi, konektivitas antardaerah, dan dampak pembangunan yang dapat dirasakan masyarakat
Sebagai gambaran, Wiyagus mencontohkan inovasi Kota Mojokerto melalui aplikasi Bayar Pajak Pakai Sampah Bisa Langsung dan Terintegrasi atau "Bajak Sambal Terasi". Inovasi tersebut menghubungkan nilai tabungan bank sampah dengan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) melalui sistem digital. "Pendekatan ini menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan, inklusi ekonomi, dan administrasi pendapatan dapat dirangkai menjadi satu. Nilai inovasinya juga terletak pada keterpaduan, kemudahan bagi warga, serta peluang menciptakan nilai ekonomi," ungkapnya.
Pembangunan Berorientasi Manusia dan Skala Partisipasi IGA 2026
Dalam konteks pembangunan yang berorientasi pada masyarakat, Wiyagus mengutip pemikiran ekonom Amartya Sen yang menempatkan pembangunan sebagai upaya memperluas kapabilitas manusia. Artinya, pembangunan perlu memberikan kesempatan nyata bagi masyarakat untuk memilih dan menjalani kehidupan yang bernilai. Pertumbuhan ekonomi dan penerimaan fiskal akan bermakna jika mampu memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan layanan publik yang lebih baik. "Inilah prinsip yang harus mendasari inovasi. Manusia bukan hanya sekadar penerima manfaat, melainkan subjek sekaligus penggerak aksi pembangunan," pungkasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BSKDN Kemendagri Raden Gani Muhamad menyampaikan IGA 2026 melibatkan 48.246 inovasi dari 541 Pemda. Jumlah tersebut meningkat 31,31 persen dibandingkan dengan 2025. Proses penilaian melibatkan 30 anggota tim penilai dari 26 instansi, yang terdiri atas unsur kementerian/lembaga, akademisi, organisasi nonpemerintah (NGO), dan media. "Tahapan presentasi ini merupakan tahapan penting bagi penyelenggaraan IGA, karena akan menjadi salah satu dasar untuk pemberian penghargaan kepada daerah yang telah berhasil melaksanakan inovasi, dan menunjukkan dampak yang signifikan terhadap kemajuan daerahnya," kata Gani.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Mendagri Tito Karnavian Tinjau Tanggul Pidie Jaya: 137 Sungai Terancam Sedimentasi, Percepatan Pengerukan Jadi Kunci

Dugaan Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo Terbongkar, Tiga Jenderal Aktif Polri Jadi Tersangka

Pertukaran Pemuda Indonesia-Shanxi Dimulai: Jelajahi Warisan Budaya dan Sejarah Kota Kuno Pingyao
