Fakta Gizi Susu Kental Manis: Bukan Sumber Utama, tapi Kontributor Nutrisi jika Dikontrol

Susu kental manis (SKM) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kuliner Indonesia, sering kali hadir sebagai pelengkap es buah hingga jagung susu keju (jasuke). Di balik reputasinya sebagai pemanis, Kementerian Kesehatan RI menekankan bahwa SKM sebenarnya memuat nilai gizi signifikan yang sering terabaikan. Produk ini bukan sekadar gula cair, melainkan mengandung protein, lemak, karbohidrat, serta berbagai mikronutrien yang dapat berkontribusi terhadap asupan harian jika dikonsumsi secara bijak. Memahami komposisi ini penting agar SKM diposisikan secara tepat dalam piramida gizi, yakni sebagai pelengkap, bukan pengganti sumber nutrisi utama.
Secara spesifik, data nutrisi menunjukkan bahwa dalam takaran saji 30 gram, SKM mengandung energi 100 kkal, protein 2 gram, lemak 2,5 gram, dan karbohidrat 18 gram. Komponen karbohidrat ini didominasi oleh gula, di mana jumlah gulanya mencapai 17 gram per sajian. Selain makronutrien, SKM juga diperkaya dengan vitamin A, D, E, B kompleks, C, serta mineral seperti kalsium, fosfor, selenium, dan iodium. Kehadiran mikronutrien ini memberikan fungsi biologis yang nyata: vitamin A menjaga penglihatan, vitamin D dan kalsium memperkuat tulang, vitamin B kompleks mendukung metabolisme energi, dan iodium vital untuk pembentukan hormon tiroid. Namun, kuantitas zat gizi ini sangat bergantung pada komposisi dan proses fortifikasi dari masing-masing produsen.
Peran SKM dalam Keseimbangan Gizi Harian
Penting untuk dipahami bahwa SKM tidak dirancang sebagai sumber utama protein atau mikronutrien harian. Kebutuhan protein tetap harus dipenuhi melalui variasi makanan lain seperti daging, ikan, atau kacang-kacangan. Kelebihan SKM justru terletak pada kemampuannya menambah nilai gizi dibandingkan penggunaan gula pasir tunggal. Jika gula pasir hanya menyumbang karbohidrat, SKM menawarkan profil gizi yang lebih lengkap, termasuk protein dan vitamin. Ini terlihat jelas dalam penyajian jasuke, di mana jagung menyediakan serat dan karbohidrat, sementara SKM dan keju melengkapi cita rasa serta mineral dan vitamin. Kombinasi ini membuat sajian menjadi lebih bergizi seimbang daripada sekadar manis.
Rekomendasi Konsumsi dan Batasan Gula
Kementerian Kesehatan RI menganjurkan pembatasan konsumsi gula total maksimal 50 gram per hari. Mengingat satu takaran SKM sudah mengandung 17 gram gula, penggunaannya harus diperhitungkan dalam total asupan harian dari sumber makanan lainnya. SKM tidak disarankan diseduh langsung dengan air sebagai pengganti susu utuh. Agar konsumsi tetap aman, disarankan menggunakan sendok takar untuk mengontrol porsi dan memastikannya berfungsi sebagai topping, bukan minuman tunggal. Dengan memahami label dan batasan ini, SKM dapat dinikmati tanpa mengorbankan prinsip diet seimbang.
BERITA TERKAIT (Kesehatan)

Kemenkes Dorong Kolaborasi 22 Negara Atasi Defisit 10 Juta Tenaga Kesehatan Global

Transformasi Layanan Kesehatan di Kei Besar: Pertamina Persembahkan Operasi Gratis Lewat RS Kapal

Ahli Gizi Peringatan: Ketiduran Waktu Tidur Acak Berpotensi Naikkan Risiko Hipertensi dan Gangguan Jantung
