Di Tengah Serangan Politik, Pakar Soroti Daya Tawar dan Elektabilitas Wapres Gibran yang Terus Menanjak
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Menurut Chamad, serangkaian serangan politik tersebut tidak bisa dilepaskan dari posisi strategis Gibran dalam peta kekuasaan nasional serta prospek politiknya yang masih terbuka lebar untuk masa mendatang.
- "Kekuatan seorang tokoh tidak hanya ditentukan oleh jabatan yang sedang diemban, tetapi juga oleh daya tawarnya dalam perebutan kekuasaan berikutnya," kata Chamad dalam keterangannya pada Senin (2/11).
- Buktinya, hasil survei justru menunjukkan tren peningkatan elektabilitas Gibran secara konsisten sepanjang tahun ini.
Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia, Chamad Hojin, menilai bahwa posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memiliki daya tawar politik yang kuat meskipun terus menghadapi berbagai kritik dan polemik terkait isu ijazah. Menurut Chamad, serangkaian serangan politik tersebut tidak bisa dilepaskan dari posisi strategis Gibran dalam peta kekuasaan nasional serta prospek politiknya yang masih terbuka lebar untuk masa mendatang.
"Kekuatan seorang tokoh tidak hanya ditentukan oleh jabatan yang sedang diemban, tetapi juga oleh daya tawarnya dalam perebutan kekuasaan berikutnya," kata Chamad dalam keterangannya pada Senin (2/11). Ia menegaskan bahwa jabatan wakil presiden dan tingkat pengenalan publik yang luas menjadi modal politik tersendiri yang membuat nama Gibran masih diperhitungkan dalam bursa kandidat potensial kontestasi politik selanjutnya.
Kritik Media Sosial dan Realitas Elektabilitas
Chamad mengamati bahwa kritik terhadap Gibran cukup dominan dalam percakapan media sosial, mencakup persoalan administrasi pendidikan, rivalitas politik, hingga perdebatan latar belakang keluarga. Namun, ia mengingatkan bahwa ramainya kritik di ruang digital tidak serta-merta mencerminkan pandangan mayoritas masyarakat, karena karakter media sosial cenderung memperkuat konten kontroversial sehingga suara kelompok vokal terlihat lebih dominan.
Buktinya, hasil survei justru menunjukkan tren peningkatan elektabilitas Gibran secara konsisten sepanjang tahun ini. Berikut rincian data surveinya:
- Survei SMRC periode 1-10 Oktober 2026 mencatat elektabilitas Gibran mencapai 8,4 persen dalam simulasi semi-terbuka 24 nama calon presiden, menempatkannya di posisi keempat.
- Angka tersebut meningkat dari survei Juli 2026 sebesar 7,7 persen.
- Peningkatan juga terjadi dibandingkan survei Februari-Maret 2026 sebesar 6,8 persen dan November 2025 sebesar 5,1 persen.
Tantangan Pembuktian Kinerja di Panggung Nasional
"Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa Gibran tetap memiliki daya tawar politik di tengah berbagai kritik yang diarahkan kepadanya," ucap Chamad. Ia menjelaskan bahwa derasnya kritik tidak selalu berujung pada penurunan elektabilitas; dalam kondisi tertentu, serangan yang ditujukan untuk meredupkan citra justru memperluas pengenalan masyarakat terhadap sosok tersebut.
Meski demikian, Chamad mengingatkan bahwa popularitas dan tingginya perhatian publik tidak otomatis berbanding lurus dengan dukungan politik riil. "Posisi strategis Gibran tetap harus diimbangi dengan pembuktian kinerja, kapasitas kepemimpinan, dan akuntabilitas sebagai wakil presiden," tuturnya. Dengan modal politik yang ada, Gibran diperkirakan tetap masuk dalam kalkulasi elite politik nasional, namun tantangan terbesarnya adalah membuktikan kapasitas kepemimpinan sekaligus menjaga kepercayaan publik di tengah dinamika serangan politik yang terus mengiringinya.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Mendagri Tito Karnavian Tinjau Tanggul Pidie Jaya: 137 Sungai Terancam Sedimentasi, Percepatan Pengerukan Jadi Kunci

Dugaan Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo Terbongkar, Tiga Jenderal Aktif Polri Jadi Tersangka

Pertukaran Pemuda Indonesia-Shanxi Dimulai: Jelajahi Warisan Budaya dan Sejarah Kota Kuno Pingyao
