Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Di Balik Layar: Netanyahu Dikabarkan Tekan Trump Serang Iran Menjelang Pemilu Sela AS

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Di Balik Layar: Netanyahu Dikabarkan Tekan Trump Serang Iran Menjelang Pemilu Sela AS
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Interaksi antara kedua pemimpin ini dilaporkan berlangsung alot dan penuh friksi, terutama karena Trump masih bersikukuh mengedepankan jalur diplomasi di tengah tekanan dari sekutunya di Israel.
  • Ketegangan ini mengindikasikan adanya disonansi signifikan dalam strategi keamanan nasional AS terhadap Teheran.
  • Pada Februari 2026 dan Juni 2025, ia pernah melakukan manuver serupa dengan melemahkan posisi Teheran secara strategis sebelum akhirnya kembali ke meja perundingan.

Percakapan panas di balik meja negosiasi Timur Tengah kembali menyala ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran sesegera mungkin. Desakan strategis ini disampaikan langsung melalui telepon pada Sabtu (31/10) lalu, berlatarbelakangi kegelisahan politik global menjelang pemilu paruh waktu AS yang dijadwalkan berlangsung Selasa (3/11) waktu setempat. Menurut sumber eksklusif yang dikutip Axios, Netanyahu secara spesifik meminta agar operasi ofensif diluncurkan tak lama setelah momen pemilu tersebut, sebuah timing yang dinilai krusial untuk memanfaatkan dinamika kebijakan luar negeri Washington yang sedang berkecamuk.

Interaksi antara kedua pemimpin ini dilaporkan berlangsung alot dan penuh friksi, terutama karena Trump masih bersikukuh mengedepankan jalur diplomasi di tengah tekanan dari sekutunya di Israel. Ketegangan ini mengindikasikan adanya disonansi signifikan dalam strategi keamanan nasional AS terhadap Teheran. Meskipun Gedung Putih dan kantor kepresidenan Netanyahu sama-sama memilih bungkam dan menolak memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut, sumber Israel mengonfirmasi bahwa perbedaan pendekatan menjadi kendala utama dalam diskusi mereka.

Strategi Trump dan Tekanan Teknis Terhadap Situs Nuklir

Dalam menghadapi Iran, Trump tercatat konsisten menerapkan pola dualitas yang unik: membuka ruang negosiasi sambil secara simultan mempersiapkan ancaman kekuatan mematikan. Pada Februari 2026 dan Juni 2025, ia pernah melakukan manuver serupa dengan melemahkan posisi Teheran secara strategis sebelum akhirnya kembali ke meja perundingan. Pekan lalu, Wakil Presiden AS JD Vance bahkan mengirim surat resmi kepada Mohsen Rezaei, Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, untuk menggaet kembali Teheran ke jalur diplomasi. Namun, Trump tidak menutup mata soal ancaman nyata; ia menyatakan bahwa situs nuklir Iran tetap dianggap berbahaya oleh Washington. "Kami bisa mengurusnya dalam 10 menit. Kami sudah merencanakannya. Anda bisa lihat Gunung Pickaxe. Kami perlu mengatasinya. Kami bisa melakukannya dengan sangat cepat," tegas Trump, menunjukkan kesiapan teknis AS dalam operasi pascarencana.

Respons Iran: Tunggu Jawaban Rasional dari AS

Menyikapi tekanan tersebut, Iran bersikap tegas namun tetap membuka pintu dialog. Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, menegaskan pada Minggu (1/11) bahwa belum ada kesepakatan tercapai antara Teheran dan Washington hingga saat ini. Diplomasi bagi Iran bukanlah tindakan menyerah, melainkan sebuah proses yang bergantung pada bagaimana AS menjawab serangkaian pertanyaan teknis dan politik yang diajukan. "Kami melakukan segala upaya dalam hal ini dan berharap pihak sana menunjukkan rasionalitas yang cukup untuk memilih diplomasi daripada hal lain," ujar Araghchi. Pernyataan ini menjadi pengingat krusial bahwa setiap langkah militer yang terburu-buru dari Netanyahu atau keputusannya bisa dengan mudah menggagalkan kesempatan emas untuk deeskalasi konflik.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ