Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Taruna Ikrar Soroti Kesenjangan Konsumsi Ikan Nasional, Dorong Inovasi Produk Kalengan

KesehatanBudi SantosoBudi SantosoSumber: Detik Health
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Taruna Ikrar Soroti Kesenjangan Konsumsi Ikan Nasional, Dorong Inovasi Produk Kalengan
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan kekayaan hasil laut yang melimpah, masih menghadapi tantangan serius terkait ketimpangan konsumsi ikan di antara masyarakatnya.
  • Hal ini mendapat sorotan tajam dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, yang mengutip data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025.
  • Dalam pembukaan talkshow hari pangan di BPOM pada Selasa (27/10/2026), Taruna mengungkapkan bahwa meskipun konsumsi ikan nasional trennya positif, pemerataannya belum merata di seluruh wilayah.

Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan kekayaan hasil laut yang melimpah, masih menghadapi tantangan serius terkait ketimpangan konsumsi ikan di antara masyarakatnya. Hal ini mendapat sorotan tajam dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, yang mengutip data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025. Dalam pembukaan talkshow hari pangan di BPOM pada Selasa (27/10/2026), Taruna mengungkapkan bahwa meskipun konsumsi ikan nasional trennya positif, pemerataannya belum merata di seluruh wilayah. Menurutnya, hal ini menjadi isu penting yang harus dibenahi untuk memastikan akses gizi bagi semua lapisan masyarakat, khususnya di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh rantai distribusi segar.

Analisis Data Konsumsi Ikan Antarnegara

Data Susenas 2025 menunjukkan adanya peningkatan konsumsi ikan nasional dari 25,31 kg per kapita per tahun pada 2024 menjadi 26,8 kg per kapita per tahun pada 2025, atau tumbuh sekitar 3,05 persen. Namun, angka rata-rata nasional ini menutupi disparitas yang signifikan antarprovinsi. Sulawesi Utara tercatat sebagai pengonsumsi ikan terbanyak dengan angka mencapai 48,97 kg per kapita per tahun. Sebaliknya, provinsi-provinsi padat penduduk di Pulau Jawa berada di kisaran 16-27 kg per kapita per tahun, sementara Papua Pegunungan mencatatkan angka terendah secara nasional, yakni hanya 10,66 kg per kapita per tahun. Kesenjangan ini mengindikasikan adanya hambatan struktural dalam distribusi pangan segar.

Peran Teknologi Pengolahan dalam Menjembatani Akses

Taruna Ikrar menjelaskan bahwa ketimpangan konsumsi tersebut mencerminkan tantangan dalam sistem distribusi dan rantai dingin (cold chain), yang membuat akses terhadap ikan segar belum merata, terutama di wilayah non-pesisir. Sebagai solusi, inovasi pengolahan hasil laut menjadi krusial untuk menjangkau masyarakat di berbagai daerah. Salah satu produk yang disoroti adalah ikan kalengan, yang melalui teknologi sterilisasi komersial memiliki masa simpan lebih panjang sehingga lebih praktis untuk didistribusikan. Teknologi ini memungkinkan produk perikanan tidak bergantung pada pengawetan kimia berbahaya, sekaligus menjaga kualitas gizi selama proses distribusi jangka panjang.

Dalam penjelasannya lebih lanjut, Taruna menegaskan bahwa teknologi pengolahan ikan kalengan mampu mempertahankan kandungan protein dan asam lemak omega-3 yang esensial bagi tubuh. Kedua zat gizi ini dinilai sangat penting untuk mendukung kesehatan jaringan saraf serta fungsi kognitif, termasuk daya ingat. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi pengolahan modern bukan hanya soal memperluas jangkauan distribusi, tetapi juga memastikan bahwa masyarakat di seluruh Indonesia, dari kawasan pesisir hingga pedalaman, dapat menerima manfaat nutrisi penuh dari hasil laut secara aman dan efektif tanpa kompromi terhadap kualitas gizi.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ