Pedagang Cilor dan Takoyaki Tekan Harga Jual di Tengah Lonjakan Biaya Tepung
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pedagang makanan tradisional di Jakarta Selatan seperti cilor, takoyaki, dan jajanan berbahan tepung terigu mulai merasakan tekanan akibat kenaikan harga bahan baku. Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa (27/10), harga tepung tapioka yang biasanya berada di kisaran Rp14.000 per kilogram kini melonjak menjadi Rp16.000, sementara tepung terigu per karung naik dari Rp200.000 menjadi Rp210.000. Naiknya harga komoditas ini memaksa pedagang memutar otak untuk menjaga daya tarik produk, di mana sebagian besar memilih menelan kerugian tipis alih-alih menaikkan harga jual kepada konsumen.
Strategi Bertahan Pedagang di Tengah Keterbatasan Modal
Sakti, seorang pedagang cilor di kawasan Mampang, memilih tidak mengurangi porsi dagangannya meskipun margin keuntungan menipis. Ia mengandalkan pendapatan dari menu pendamping seperti makloni telur dan bihun telur untuk menutupi defisit dari penjualan cilor. Dengan alasan serupa, Nano, pedagang takoyaki keliling, mempertahankan harga jual tetap di Rp10.000 untuk delapan buah. Keunggulan operasional Nano yang tidak mengeluarkan biaya sewa tempat membantu menopang usahanya, meskipun penggunaan tepung harian yang bisa mencapai 10 kilogram saat ramai membuat tekanan biaya semakin signifikan.
Fenomena kenaikan harga ini juga dirasakan oleh pedagang lain yang menjual odading, donat, onde, dan cakwe. Mereka menegaskan bahwa seluruh bahan baku, termasuk minyak goreng yang naik sekitar Rp2.000 per liter, gula, mentega, hingga susu, mengalami peningkatan biaya. Namun, mereka tetap berkomitmen tidak mengubah harga jual ke masyarakat demi menjaga loyalitas pelanggan. Kontrasnya, toko bahan kue Baking Story di kawasan yang sama justru melaporkan stabilitas harga untuk beberapa jenis tepung, seperti tepung terigu protein sedang yang tetap di angka Rp14.500 per kilogram, meski harga tepung tapioka tercatat di Rp34.000.
Respons Pemerintah Terkait Isu Ekspor Singkong
Kondisi ini diperdebatkan menyusul rencana pemerintah mengekspor singkong. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa ekspor dilakukan karena produksi dalam negeri berlebih, dan diharapkan bisa memberikan harga yang lebih baik bagi petani. Pernyataan tersebut muncul di tengah keluhan warganet yang ramai di media sosial, di mana beberapa laporan menyebut harga tepung tapioka melonjak dari kisaran Rp8.000 hingga Rp10.000 menjadi Rp16.000 per kilogram, atau naik dari Rp175.000 menjadi Rp325.000 per karung, menimbulkan kekhawatiran akan pasokan bahan baku untuk industri domestik.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DJP Klarifikasi: GOTO dan Lazada Bukan Pemungut Pajak Digital, Cakupan SPP-TDLN Masih Terbatas

Bahlil Tutup Akses Ekspor Listrik ke Singapura, Perintahkan Danantara Tolak Lobi

Andalkan Empat Segmen Bisnis, Telkom Rebut Target Laba Bersih Rp14,4 T di Kuartal III 2026
