Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Rupiah Melemah ke Rp18.140 per Dolar AS, Inflasi Melandai tapi Tekanan Biaya Manufaktur Mengintai

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Market & Saham
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Rupiah Melemah ke Rp18.140 per Dolar AS, Inflasi Melandai tapi Tekanan Biaya Manufaktur Mengintai
BAGIKAN:

Rupiah menutup perdagangan Senin (2/11/2026) di zona merah, melemah 0,11% menjadi Rp18.140 per dolar AS, mengakhiri tren penguatan dua hari sebelumnya. Pelemahan ini terjadi meskipun Indeks Dolar AS (DXY) juga merosot 0,13% ke level 101,745, menunjukkan bahwa mata uang Garuda belum mampu memanfaatkan koreksi tersebut untuk keluar dari tekanan jual.

Dilansir CNBC Indonesia dari data Refinitiv, tekanan rupiah sudah terasa sejak pembukaan pagi yang turun 0,03% ke Rp18.125. Volatilitas bertambah lebar seiring rupiah sempat menyentuh level terlemah di Rp18.175 sebelum akhirnya memangkas sebagian pelemahan sebesar 35 poin hingga penutupan pasar. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar global dalam menimbang dinamika ekonomi domestik terhadap ketidakpastian geopolitik internasional.

Sentimen Pasar Global vs Data Domestik: Inflasi Melandai, Manufaktur Pulih

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Oktober 2026 sebesar 3,23%, melandai dari 3,28% pada bulan sebelumnya dan sedikit di bawah konsensus pasar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan kenaikan ini seiring melonjaknya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,04 menjadi 112,56. Meskipun angkanya turun, inflasi ini masih berada di bagian atas rentang sasaran pemerintah dan Bank Indonesia, sehingga tetap memerlukan cermatan ketat untuk menentukan arah kebijakan moneter berikutnya.

Di sisi lain, sentimen positif datang dari sektor riil di mana PMI manufaktur Indonesia naik menjadi 54,0, rekor tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Peningkatan ini ditopang oleh lonjakan pesanan baru dan ekspor. Namun, data juga mengungkap bahwa kenaikan biaya bahan baku dan harga jual produsen masih menjadi tanda bahwa tekanan harga di hulu belum sepenuhnya mereda bagi para pelaku industri.

Menjaga Keseimbangan: Ancaman Pemilu Sela AS dan Prospek Kebijakan Moneter

Pelaku pasar global saat ini menahan langkah signifikan menjelang pemilu sela Amerika Serikat pada Selasa. Hasil pemilu ini diprediksi akan menggeser keseimbangan kekuatan di Kongres, yang secara langsung dapat memengaruhi ruang gerak pemerintahan Presiden Donald Trump dalam menjalankan kebijakan fiskal, pajak, dan belanja negara. Ketidakpastian terkait arah kebijakan fiskal AS ini turut mewarnai pasar valuta asing, termasuk Rupiah.

Sintesis dari kondisi tersebut menempatkan Rupiah dalam posisi janggal: fundamental ekonomi domestik sedang berbalik arah positif (PMI pulih, inflasi terkendali), namun pasar tetap terbelenggu oleh ekspektasi risikonya terhadap dinamika AS. Dengan inflasi yang melandai namun masih di batas atas, otoritas moneter di Indonesia kini dihadapkan pada tantangan menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan momentum pemulihan daya saing manufaktur yang tengah menguat.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸