OJK Luncurkan Blueprint Strategis Keuangan Syariah, Targetkan Pertumbuhan Aset Melampaui 10%

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi meluncurkan Blueprint Keuangan Syariah Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai panduan strategis untuk mempercepat pengembangan ekonomi dan industri keuangan syariah nasional. Peluncuran ini menjadi salah satu rangkaian utama Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2026 yang digelar pada Senin (2/11/2026). Dokumen tersebut memuat arah pengembangan industri keuangan syariah secara terpadu dan lintas sektor, mencakup perbankan syariah, pasar modal syariah, hingga industri keuangan nonbank syariah, dengan tujuan membangun ekosistem yang lebih berdaya saing global.
Langkah ini dinilai krusial mengingat posisi Indonesia yang saat ini menempati peringkat keempat dalam Global Islamic Economy Indicator Score 2025-2026. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, berharap kehadiran blueprint ini dapat menjadi batu loncatan bagi Indonesia untuk menduduki posisi teratas, mengingat status negara ini sebagai pemilik populasi Muslim terbesar di dunia. Dalam suasana forum tersebut, Friderica menegaskan komitmen regulator untuk memastikan industri ini tidak hanya tumbuh, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan publik.
Fokus pada Inovasi Produk dan Penguatan Permodalan
Dalam forum yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa salah satu fokus utama blueprint adalah mendorong diversifikasi produk secara agresif. Pelaku industri diminta lebih berani menghadirkan inovasi yang selaras dengan minat dan kebutuhan masyarakat, sehingga pengembangan industri syariah tidak sekadar meniru model bisnis perbankan konvensional, tetapi menawarkan produk dengan karakteristik dan keunggulan tersendiri. Di sisi lain, penguatan kapasitas permodalan menjadi faktor penentu vital untuk menopang pertumbuhan industri keuangan syariah di masa depan.
- Total aset industri keuangan syariah nasional telah mencapai Rp3.307 triliun, tumbuh 9% dibandingkan tahun 2025.
- OJK menilai pertumbuhan tersebut masih berpeluang ditingkatkan hingga melampaui 10% apabila didukung struktur dan kapasitas permodalan yang lebih kuat.
- Saat ini, hanya Bank Syariah Indonesia (BSI) yang memiliki kapasitas permodalan besar secara dominan.
Visi Regulator: Mewujudkan Ekosistem Multisalah Kuat
Menyikapi dominasi BSI saat ini, Dian Ediana Rae mengungkapkan ambisi regulator untuk menciptakan pemerataan kekuatan modal di industri. "Ke depan kita ingin ada 3-4 lagi yang strukturnya mendekati atau setara dengan BSI," kata Dian. Pernyataan ini menandai shift strategi dari pertumbuhan kuantitatif semata menuju penguatan fundamental institusional. "Harapan kita industri ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia ini semakin maju dan tujuan akhirnya adalah menyejahterakan masyarakat," ujar Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa blueprint ini merupakan langkah strategis jangka panjang untuk memaksimalkan potensi ekonomi nasional melalui jalur syariah.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DJP Klarifikasi: GOTO dan Lazada Bukan Pemungut Pajak Digital, Cakupan SPP-TDLN Masih Terbatas

Bahlil Tutup Akses Ekspor Listrik ke Singapura, Perintahkan Danantara Tolak Lobi

Andalkan Empat Segmen Bisnis, Telkom Rebut Target Laba Bersih Rp14,4 T di Kuartal III 2026
