Menjaga Pangan di Tengah Krisis Lahan: Sukabumi Genjot Pertanian Modern Awas Defisit

Tekanan terhadap ketersediaan pangan di Kabupaten Sukabumi kian melajur seiring menyusutnya lahan sawah akibat alih fungsi. Sepanjang tahun 2025, tercatat sekitar 350 hektare lahan produktif berubah menjadi kawasan non-pertanian. Menyikapi urgensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sukabumi bersama Kementerian Pertanian mengakselerasi adopsi Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) sebagai solusi strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan meski area tanam terus mengecil.
Inisiatif ini diperkuat dengan pembukaan Sekolah Lapang PM-AAS yang digelar di lahan Kelompok Tani Subur Rejeki, Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat, pada Jumat, 30 Oktober 2026. Program ini dirancang bukan sekadar pengenalan teknologi, melainkan ruang belajar aplikatif bagi petani mulai dari teknik penanaman, pemeliharaan, hingga evaluasi panen. Peristiwa ini ditandai dengan penanaman padi metode sebar benih serta penandatanganan komitmen dukungan dari Wakil Bupati Sukabumi, Dinas Pertanian, dan perwakilan Kementerian Pertanian.
Metode Pembelajaran Lapangan dan Strategi Sangkuriang
Wakil Bupati Sukabumi, H Andreas, menegaskan bahwa penerapan sistem pertanian modern sejalan dengan kebijakan strategis daerah yang dikenal dengan sebutan Sangkuriang atau Swasembada Pangan Berkelanjutan dan Kemandirian Pangan. Andreas menyatakan, "Strategi tersebut mencakup pengembangan kawasan pertanian, pembangunan agroindustri, serta perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan." Hal ini menjadi fondasi untuk mengantisipasi risiko kelangkaan pangan di masa depan melalui pendekatan yang lebih komprehensif dan terencana.
Untuk memastikan implementasi berjalan optimal, Pemkab Sukabumi menekankan pentingnya pendampingan yang terstruktur. Penyuluh dan Dinas Pertanian diwajibkan mendampingi kelompok tani secara menyeluruh, mencakup:
- Fase persiapan lahan hingga optimalisasi area tanam;
- Proses masa tanam dan pemeliharaan tanaman dengan standar modern;
- Manajemen pascapanen untuk memaksimalkan hasil dan nilai jual.
Dampak Jangka Panjang dan Kemandirian Pangan
Di tengah keterbatasan lahan yang terus berkurang, peningkatan indeks pertanaman dan produktivitas per hektare menjadi kunci utama untuk menyelamatkan stok pangan daerah. H Andreas menekankan bahwa tantangan alih fungsi lahan harus diimbangi dengan pengelolaan usaha tani yang lebih efektif menggunakan teknologi terkini. Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah dan kementerian, pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan panen yang lebih maksimal dari lahan yang tersedia, sekaligus memperkuat posisi Sukabumi dalam mewujudkan kemandirian pangan secara berkelanjutan di tingkat nasional.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Ibu Lansia Dituduh Senggol Mobil Sebelum Tewaskan Pemotor di Kembangan, Polisi Ungkap Kronologi

Sudin Perpustakaan Jakut Luncurkan Book Camp 2026: 85 Duta Literasi Targetkan Ekosistem Kebiasaan Baca Berkelanjutan

BPS: Penumpang LRT Jakarta Melonjak 66 Persen Sepanjang September 2026, Transjakarta Tembus 39 Juta Orang
