BPS: Penumpang LRT Jakarta Melonjak 66 Persen Sepanjang September 2026, Transjakarta Tembus 39 Juta Orang

Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat lonjakan signifikan pada volume penumpang angkutan umum di ibu kota sepanjang September 2026. Tiga moda utama, yaitu MRT, LRT, dan Transjakarta, menunjukkan tren pertumbuhan positif baik secara bulanan maupun tahunan. Data rilis terbaru menunjukkan total penumpang MRT Jakarta mencapai 4.279.584 orang, LRT Jakarta sebanyak 210.054 orang, dan Transjakarta yang tertinggi dengan 39.680.095 orang pada periode tersebut.
Kenaikan jumlah pengguna ini dipandang sebagai indikasi meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik sebagai alternatif utama mobilitas urban. Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, mengonfirmasi tren positif ini dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Senin. "Jumlah penumpang ketiga moda transportasi tersebut (pada September 2026) mengalami peningkatan baik secara bulanan maupun tahunan," tegas Kadarmanto. Pernyataan ini menegaskan efektivitas integrasi layanan transportasi massal dalam mengurangi kemacetan dan emisi karbon di wilayah Metropolitan.
Kinerja Bulanan vs Tahunan: LRT Menunjukkan Tumbuh Eksponensial
Dalam analisis komparatif, LRT Jakarta mencatatkan performa paling mencolok. Secara bulanan, jumlah penumpang melonjak sebesar 57,92 persen dibandingkan Agustus 2026, sementara secara tahunan, tumbuh 66,48 persen dibandingkan September 2025. Meskipun basisnya lebih kecil, lonjakan ini mengindikasikan ekspansi rute atau peningkatan frekuensi yang berdampak langsung pada preferensi pengguna. Untuk MRT Jakarta, pertumbuhan bulanan tercatat 5,40 persen dan tahunan sebesar 9,33 persen. Sementara itu, Transjakarta sebagai tulang punggung angkutan publik mencatatkan kenaikan 4,49 persen secara bulanan dan 8,90 persen secara tahunan.
Rincian pertumbuhan penumpang September 2026 menurut BPS DKI Jakarta adalah sebagai berikut:
- LRT Jakarta: Naik 57,92% (bulanan) dan 66,48% (tahunan)
- MRT Jakarta: Naik 5,40% (bulanan) dan 9,33% (tahunan)
- Transjakarta: Naik 4,49% (bulanan) dan 8,90% (tahunan)
Paradoks Operasional: Penurunan Frekuensi Perjalanan Meski Volume Naik
Meskipun antusiasme penumpang tinggi, sisi operasional menunjukkan dinamika berbeda. Jumlah perjalanan MRT Jakarta tercatat 8.022 kali, namun turun 0,73 persen dibanding bulan sebelumnya. LRT Jakarta mengalami penurunan frekuensi perjalanan lebih tajam, yakni 16,46 persen menjadi 5.283 perjalanan. Sementara itu, armada Transjakarta yang beroperasi berjumlah 4.706 unit, mengalami penurunan 0,74 persen secara bulanan. Jika dibandingkan dengan tahun 2025, tren penurunan juga terjadi pada LRT dan Transjakarta secara signifikan, masing-masing turun 13,65 persen dan 6,87 persen. Hanya MRT yang menunjukkan peningkatan frekuensi perjalanan sebesar 0,83 persen secara tahunan.
Kondisi ini menciptakan paradoks di mana permintaan naik namun pasokan (frekuensi/armada) menurun. Kadarmanto menyarankan agar operator mengevaluasi kapasitas layanan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan di kuartal berikutnya. Peningkatan volume penumpang tanpa diiringi peningkatan frekuensi perjalanan berisiko menurunkan kualitas layanan, seperti tingkat kepadatan di stasiun dan halte, serta waktu tunggu (*waiting time*) yang lebih lama. Pihak dinas terkait diharapkan melakukan sinergi data untuk memastikan keberlanjutan kenyamanan pengguna jasa transportasi publik di Jakarta.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Ibu Lansia Dituduh Senggol Mobil Sebelum Tewaskan Pemotor di Kembangan, Polisi Ungkap Kronologi

Sudin Perpustakaan Jakut Luncurkan Book Camp 2026: 85 Duta Literasi Targetkan Ekosistem Kebiasaan Baca Berkelanjutan

Wisatawan ke Jakarta Capai 8,58 Juta Perjalanan, Naik 6,37 Persen Sepanjang September 2026
