Mendes Yandri Tegas: Seleksi Beasiswa ke Jepang Ditentukan Murni Kemampuan, Tanpa Intervensi Pejabat
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

- Penegasan ini dilakukan untuk menjaga integritas program yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di desa.
- Penjelasan ini disampaikan Yandri saat memberikan sambutan pada Pembukaan Seleksi Offline Beasiswa ke Jepang di Pondok Pesantren Bai Mahdi Soleh Makmun, Kabupaten Serang, Banten, pada Senin.
- Ia menekankan bahwa pejabat, termasuk dirinya maupun kepala daerah, tidak memiliki kewenangan untuk menentukan siapa yang lolos dalam program tersebut.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menegaskan bahwa hasil seleksi beasiswa bagi generasi muda desa ke Jepang ditentukan sepenuhnya oleh kemampuan peserta, tanpa adanya intervensi dari pihak mana pun. Penegasan ini dilakukan untuk menjaga integritas program yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di desa.
Penjelasan ini disampaikan Yandri saat memberikan sambutan pada Pembukaan Seleksi Offline Beasiswa ke Jepang di Pondok Pesantren Bai Mahdi Soleh Makmun, Kabupaten Serang, Banten, pada Senin. Ia menekankan bahwa pejabat, termasuk dirinya maupun kepala daerah, tidak memiliki kewenangan untuk menentukan siapa yang lolos dalam program tersebut.
Tekad Tanpa Campur Tangan dan Pembentukan Karakter
Yandri menyatakan bahwa proses seleksi bersifat objektif dan transparan. “Harus semangat, izin orang tua, ikuti semua tahapan. Lulus tidak lulusnya ke Jepang tanggung jawab anak-anku sekalian, bukan kendali saya, Ibu Bupati, atau lainnya,” ujar dia. Ia mengimbau seluruh peserta untuk memanfaatkan kesempatan langka ini dengan serius karena program ini bukan sekadar tambahan pengetahuan, melainkan sarana pembentukan karakter, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap adab dan budaya setempat.
- Independensi seleksi: Lolos atau tidaknya peserta murni hasil dari tahapan seleksi yang telah ditentukan.
- Pembentukan karakter: Peserta dididik untuk disiplin, menjaga adab, dan tidak membawa budaya yang kurang baik ke negara tujuan.
- Peserta wajib: Mendapat izin orang tua dan mengikuti seluruh tahapan seleksi dengan sungguh-sungguh.
Menurut Yandri, membawa pulang disiplin dan tata krama yang baik adalah bentuk penghormatan terhadap budaya setempat yang harus dijaga oleh generasi muda desa.
Harapan Menjadi Pencipta Lapangan Kerja bagi Desa
Lebih jauh, Mendes Yandri berpesan agar alumni program beasiswa ini tidak hanya berorientasi pada pencarian pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan. Sebaliknya, mereka diharapkan mampu menjadi pencipta lapangan kerja dengan mengaplikasikan pengetahuan dan pengalaman internasional di desa asal.
“Setelah dari Jepang, jangan mencari pekerjaan, tapi ciptakan lapangan pekerjaan. Di Kemendes banyak programnya, ada Desa Ekspor, Desa Wisata, itu semua bisa jadi mitra untuk anak-anakku menciptakan lapangan kerja,” tutup Yandri. Harapan ini sejalan dengan visi Kementerian Desa untuk menggerakkan potensi ekonomi desa melalui sinergi antara SDM terampil dan program pengembangan desa yang berkelanjutan.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Mendagri Tito Karnavian Tinjau Tanggul Pidie Jaya: 137 Sungai Terancam Sedimentasi, Percepatan Pengerukan Jadi Kunci

Dugaan Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo Terbongkar, Tiga Jenderal Aktif Polri Jadi Tersangka

Pertukaran Pemuda Indonesia-Shanxi Dimulai: Jelajahi Warisan Budaya dan Sejarah Kota Kuno Pingyao
