KemenPPPA Gelar Festival Anak Bermain di GBK untuk Kurangi Screen Time Anak

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) berkolaborasi dengan Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPK-GBK) dan Komite Permainan dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) untuk menghadirkan Festival Anak Bermain di Gerbang Utama GBK. Acara ini dirancang secara strategis untuk mendorong masyarakat, khususnya anak-anak, mengurangi ketergantungan pada gawai atau screen time dengan merangsang partisipasi aktif dalam kegiatan budaya dan olahraga tradisional di ruang publik.
Pengenalan Karakter Melalui 18 Permainan Tradisional
Dalam gelaran tersebut, tersedia sebanyak 18 varian permainan tradisional yang bervariasi, mulai dari egrang, lompat tali, hingga gasing. Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan wujud komitmen negara dalam menjamin hak anak atas pemanfaatan waktu luang yang berkualitas. Esensi dari permainan tradisional, menurutnya, melampaui sekadar rekreasi; ia menjadi medium utama untuk pembentukan karakter. Karena hampir semua permainan membutuhkan interaksi sosial, anak-anak dipaksa untuk belajar menghargai orang lain, bersikap sportif, jujur, dan melatih kesabaran dalam antre, sehingga membentuk mentalitas sosial yang kuat bagi generasi mendatang.
Rangkaian Peringatan Hari Anak Sedunia
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Sedunia yang diperingati setiap 20 November. Kementerian PPPA menyatakan bahwa program festival tidak akan berhenti pada gelaran pertama ini. Pada tanggal 8 dan 15 November 2026, masyarakat diundang kembali untuk berpartisipasi dalam Festival Anak Bermain di lokasi yang sama. Sebagai puncak rangkaian acara tersebut, akan dilakukan aktivasi ruang bermain berbasis permainan tradisional di Moja Museum pada 22 November 2026, guna menciptakan ekosistem bermain yang berkelanjutan dan edukatif bagi anak-anak Indonesia.
Dengan hadirnya festival ini di kawasan car free day GBK, diharapkan terjadi pergeseran perilaku masyarakat dari konsumsi digital pasif menjadi aktivitas fisik aktif yang menyenangkan. Kolaborasi lintas instansi ini menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan perlindungan anak dapat diimplementasikan melalui pendekatan kultural yang inklusif, memastikan bahwa hak atas bermain tetap terlindungi dan menjadi fondasi bagi tumbuh kembang generasi bangsa yang berkarakter.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Militer Yaman Klaim Lumpuhkan 500 Pejuang Houthi dalam 24 Jam, Krisis Kemanusiaan Memburuk

Menag Dorong Kolaborasi Berkelanjutan MABIMS melalui Pusat Riset Lintas Negara

Pramono Anung Pastikan DKI Ikuti Keputusan Pusat Soal Konser Andrea Bocelli 2026
