Dolar AS Tembus Rp 18.162, Rupiah Tertekan di Awal Sesi Perdagangan

Nilai tukar dolar Amerika Serikat menunjukkan performa kuat di pasar valas, dengan mata uang tersebut berhasil menembus level psikologis baru dan menekan rupiah. Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg pada Senin (2/11/2026) sekitar pukul 09.10 WIB, dolar AS diperdagangkan di level Rp 18.162 per dolar. Angka ini menandakan penguatan sebesar 15 poin atau setara dengan 0,08% dibandingkan posisi sebelumnya, yang secara efektif mengkonfirmasi tren pelemahan rupiah pada awal sesi perdagangan harian tersebut.
Dinamika Pergerakan Mata Uang Global
Secara global, pergerakan dolar AS terhadap berbagai mata uang utama dunia terpantau bervariasi, menunjukkan kekuatan relatif yang berbeda-beda tergantung pada pasangan mata uangnya. Dolar AS menunjukkan sentimen positif dengan menguat melawan mayoritas mata uang Asia dan Eropa. Secara spesifik, penguatan dolar AS tercatat sebesar 0,01% terhadap dolar Hong Kong dan 0,18% terhadap yen Jepang. Di kawasan Asia Timur, dolar AS juga berhasil menguat signifikan sebesar 0,38% terhadap won Korea Selatan, mengindikasikan tekanan pada mata uang regional tersebut.
Di sisi lain, dominasi dolar AS tidak terjadi secara merata di seluruh pasar global. Mata uang Paman Sam justru terpantau melemah tipis sebesar 0,01% ketika dipasangkan dengan franc Swiss. Pergerakan ini menyoroti bahwa meskipun dolar AS menguat secara umum, terdapat pengecualian tertentu di mana franc Swiss mempertahankan atau bahkan meningkatkan nilainya terhadap dolar. Variasi ini menjadi indikator penting bagi para pelaku pasar untuk menganalisis kekuatan dolar secara lebih komprehensif sebelum mengambil keputusan investasi.
Penguatan dolar AS yang membawa rupiah ke level Rp 18.100-an ini harus dicermati oleh pelaku ekonomi dan investor, mengingat fluktuasi mata uang berdampak langsung pada biaya impor dan stabilitas inflasi. Tren yang terlihat pada data Bloomberg ini menjadi acuan awal untuk memprediksi arah pergerakan pasar valas sepanjang hari, di mana tekanan terhadap rupiah dapat berlanjut atau berbalik arah tergantung pada intervensi kebijakan moneter dan sentimen pasar global yang dinamis.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Finalis MediaMIND Ungkap Potensi Hilirisasi Timah dan Praktik Tambang Bertanggung Jawab di Kundur

Transformasi Bisnis Kimia Farma Tekan Rugi Bersih Jadi Rp13 Miliar

Pemerintah Petik Pajak Rp2,18 T dari Kripto, Fintech Tembus Rp5,4 T
