Djoko Siswanto Akui Impor Bensin RI Tembus 50%, Gencarkan Strategi Kendaraan Listrik
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengungkap fakta krusial terkait ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa sejak tahun 2004, posisi Indonesia berubah secara signifikan dari produsen menjadi pengimpor netto minyak mentah. Hal ini dipicu oleh ketidakmampuan produksi domestik untuk memenuhi permintaan dalam negeri, sebuah pergeseran yang bahkan berujung pada keluarnya Indonesia dari keanggotaan OPEC. "Sejak tahun 2004 kita sudah menjadi negara nett importir minyak. Dulu kita negara OPEC. Kemudian sekarang sudah menjadi importir sehingga kita keluar dari OPEC," ujar Djoko.
Dominasi Impor Bensin dan Strategi Mitigasi
Skala ketergantungan tersebut semakin terlihat jelas pada sektor bahan bakar fosil, di mana Indonesia saat ini masih mengimpor 50 persen kebutuhan bensin dan juga minyak mentah sebagai bahan baku kilang. Meskipun demikian, Djoko menegaskan bahwa ketahanan energi Indonesia masih memiliki sisi positif, khususnya pada komoditas gas alam. Indonesia masih tercatat sebagai negara eksportir gas, dengan 30 persen produksinya diekspor ke luar negeri dalam bentuk gas pipa dan *Liquefied Natural Gas* (LNG). Namun, untuk kebutuhan gas rumah tangga, Indonesia masih bergantung pada impor LPG.
Untuk mengatasi ketergantungan impor tersebut, pemerintah melalui berbagai kementerian dan lembaga tengah menggencarkan serangkaian kebijakan strategis. Djoko menjelaskan bahwa upaya utama difokuskan pada peningkatan produksi hulu dan diversifikasi penggunaan energi. "Untuk mengatasi impor LPG kita ada jargas, kita ada kompor listrik juga, kita juga ada program CNG, kita sedang uji coba tabung CNG setara 3 kg," paparnya. Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi volume impor LPG sekaligus memperluas akses energi bersih bagi masyarakat.
Sedangkan untuk menekan ketergantungan pada impor bensin, pemerintah melihat transformasi mobilitas listrik sebagai kunci utama. Djoko menambahkan bahwa program kendaraan listrik menjadi prioritas, sejalan dengan rencana pengembangan bahan bakar nabati di masa depan. "Selain kendaraan listrik, kita ke depan juga ada bio-gasolin, ada campur dengan etanol. Itu di Brazil, di beberapa negara itu sudah berhasil ya kita pakai bioful jenis bio-bensin dengan etanol. Kalau yang biodiesel kan kita sudah sukses ya," katanya. Kombinasi antara elektrifikasi transportasi dan pemanfaatan biofuel diharapkan dapat menciptakan ketahanan energi nasional yang lebih berkelanjutan dan mandiri di tahun-tahun mendatang.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Rupiah Melemah ke Rp18.140 per Dolar AS, Inflasi Melandai tapi Tekanan Biaya Manufaktur Mengintai

Kebijakan BEI: 81 Saham HSC Dicoret dari IHSG, Bobot 10 Emiten Besar Melonjak

BJS Buka Suara Dugaan Hilangnya Emas 2,2 Kilogram: Fasilitas Gadai Dinyatakan Lunas Sejak 2013
