Data BPS: Penumpang Pesawat Domestik RI Ambles 12,81% di September 2026
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Perekonomian transportasi Indonesia menghadapi tantangan signifikan pada kuartal ketiga tahun ini, di mana data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan jumlah penumpang pada hampir seluruh moda transportasi. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengonfirmasi bahwa pada September 2026, terjadi penurunan jumlah penumpang secara bulanan pada seluruh moda kecuali angkutan kereta. Angka ini menjadi sorotan utama mengingat sektor transportasi udara, khususnya domestik, mengalami kontraksi tajam yang mengindikasikan pelemahan mobilitas domestik.
Penurunan paling mencolok terjadi pada sektor penerbangan dalam negeri. Penumpang angkutan udara domestik pada September 2026 hanya mencapai 4,22 juta orang, turun 12,81% dibandingkan bulan sebelumnya. Secara kumulatif Januari-September 2026, jumlah penumpang penerbangan domestik turun 4,49% menjadi 42,1 juta orang, melanjutkan tren negatif yang juga terlihat pada rute internasional.
Lonjakan Penumpang Kereta dan Pergerakan Barang Laut
Di sisi lain, moda transportasi rel dan laut menunjukkan kinerja yang lebih stabil. Angkutan kereta api tetap menjadi pengecualian utama dengan total 48,55 juta penumpang pada September 2026, mencakup kereta bandara, MRT, LRT, dan kereta cepat Whoosh. Pertumbuhan ini mengonfirmasi pergeseran preferensi masyarakat menuju transportasi publik yang lebih terstruktur. Sementara itu, angkutan laut domestik juga mencatatkan lonjakan, baik secara bulanan maupun tahunan.
Secara rinci, performa sektor transportasi menunjukkan pola yang berbeda antara penumpang dan barang:
- Penumpang Udara Domestik: 4,22 juta orang (turun 12,81% MoM; 12,39% YoY).
- Penumpang Kereta: 48,55 juta orang (naik 0,47% MoM; 7,64% YoY untuk periode Jan-Sep).
- Barang Laut: 48,2 juta ton (naik 1,10% MoM; 10,81% YoY).
- Barang Udara: 47,4 ribu ton (turun 4,05% MoM; 12,08% YoY kumulatif).
Implikasi Kebijakan dan Prospek Industri Transportasi
Ateng Hartono menekankan bahwa secara tahunan, sebagian besar moda transportasi sebenarnya masih menunjukkan peningkatan, kecuali moda udara yang mengalami penyusutan. "Secara tahunan sebagian besar moda transportasi meningkat. Hanya moda angkutan udara domestik yang turun sebesar 12,39% dan moda angkutan udara internasional yang turun sebesar 2,92% dibanding kondisi September 2025," ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta. Ini mengisyaratkan bahwa penurunan bulanan adalah fluktuasi sementara dalam tengah jangka panjang pertumbuhan transportasi massal.
Penurunan volume barang yang diangkut melalui udara dan kereta api, masing-masing turun 12,08% dan 5,67% secara kumulatif Januari-September, mungkin mencerminkan efisiensi logistik atau pergeseran rantai pasok ke jalur maritim yang lebih murah. Bagi industri, fokus pada integrasi jaringan kereta api seperti Whoosh dan MRT dinilai strategis untuk mempertahankan volume penumpang, sementara penurunan tajam di sektor udara memerlukan evaluasi kebijakan tarif dan konektivitas rute agar dapat kembali memulihkan daya tarik pasar domestik.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

IHSG Anjlok 3% ke 4.942, Tekanan Jual Dominasi di Tengah Pemilu Sela AS & Anjloknya Harga Minyak

OJK Targetkan Empat Bank Syariah Selevel BSI untuk Kuatkan Industri Keuangan Nasional

Aksi Jual Asing Masif Berbuah Maut, IHSG Jebol di Bawah 5.000 Sesi I
