CEO Sucor: Kreditabilitas Bursa RI Tergantung Perkuatan MSCI dan Masuknya Dana Pensiun
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Cepat atau lambat, kepastian nasib pasar modal Indonesia akan bergantung pada keberhasilan pemerintah dan otoritas bursa dalam memulihkan kepercayaan investor global. CEO Sucor Sekuritas, Bernardus Wijaya, menegaskan bahwa transformasi fundamental dan penguatan kredibilitas adalah kunci utama untuk mencegah Indonesia terjerumus menjadi 'standalone market', atau bursa yang terisolasi dari indeks global.
Meragukan Independensi Rating Bursa Mandiri
Wijaya menilai bahwa wacana pemerintah untuk membuat rating bursa saham secara mandiri memang feasible secara teknis, namun memiliki pertanyaan besar terkait penerimaan di pasar internasional. Ia skeptis apakah rating yang dibentuk RI akan langsung menjadi acuan yang kredibel dan dipercaya oleh pelaku pasar global. Alasannya, independensi dan konsistensi lembaga pengawas selama ini masih menjadi sorotan, dibuktikan dengan deretan sanksi besar yang dijatuhkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 31 Oktober 2026 terkait pelanggaran kasus DSSA, BREN, hingga CUAN. Sanksi tersebut, yang mencapai total triliunan rupiah, menunjukkan upaya OJK dalam menegakkan hukum, namun di sisi lain mengingatkan bahwa integritas pasar perlu diperbaiki dari dalam sebelum mengharapkan pengakuan dari luar.
Fokus Utama: Negosiasi MSCI dan Injeksi Dana Domestik
Sebagai solusi alternatif yang lebih realistis, Wijaya menekankan pentingnya memperkuat negosiasi dengan lembaga indeks global, MSCI. Dengan memperbaiki skor metodologi dan transparansi, Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak dipangkas dari bobot MSCI. Selain itu, ia menggarisbawahi urgensi membuka akses bagi entitas dana raksas nasional seperti Danantara hingga dana pensiun untuk masuk ke pasar saham. Injeksi likuiditas dari dalam negeri ini dianggap lebih berdampak signifikan dalam jangka pendek untuk menopang pasar, dibandingkan sekadar mengandalkan janji rating internasional. Dengan kombinasi tekanan dari investor domestik besar dan perbaikan hubungan dengan MSCI, Wijaya meyakini bahwa Indonesia dapat keluar dari bayang-bayang ancaman degradasi status pasar.
Secara keseluruhan, pelaku pasar melihat bahwa debat tentang rating mandiri harus ditopang oleh aksi nyata yang lebih berdampak pada likuiditas dan kredibilitas. Tanpa intervensi besar dari institusi keuangan domestik dan perbaikan teknis yang diakui MSCI, wacana rating nasional hanya akan menjadi langkah kosmetik. Pasar membutuhkan sinyal politik dan regulasi yang jelas, terutama di tengah meningkatnya risiko volatilitas global. Dengan demikian, fokus kebijakan harus diarahkan pada efisiensi penegakan hukum pasar modal yang sudah dicanangkan OJK, sambil simultan memacu partisipasi investor institusional lokal untuk menjaga stabilitas IHSG secara fundamental.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BJS Buka Suara Dugaan Hilangnya Emas 2,2 Kilogram: Fasilitas Gadai Dinyatakan Lunas Sejak 2013

OJK Luncurkan Blueprint Strategis Keuangan Syariah, Targetkan Pertumbuhan Aset Melampaui 10%

DJP Klarifikasi Mitos Pajak Digital: Transfer Bank Bukan Objek PPN, Ini Mekanisme SPP-TDLN
