BNPB Soroti Karhutla Papua Selatan: 695 Hektare Terbakar, Upaya Pemadaman Perkuat Koordinasi
Menyajikan kajian agama Islam yang menyejukkan dan relevan dengan kehidupan modern.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Papua Selatan menjadi fokus utama penanganan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan total luas area terbakar yang tercatat mencapai 695 hektare. Meskipun tren penurunan aktivitas api terlihat jelas dibandingkan hari sebelumnya, ribuan titik panas masih menjadi perhatian serius bagi otoritas kebencanaan nasional. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa penanganan di lapangan masih perlu didorong lebih kuat untuk memastikan seluruh titik api benar-benar padam dan tidak membara kembali.
Tren Penurunan Data dan Verifikasi Lapangan
Berdasarkan data pemantauan geospasial BNPB per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB, terjadi pergeseran signifikan dalam status kebakaran. Jumlah titik panas berkurang drastis dari 943 menjadi 379 titik, sementara titik api aktif turun dari 263 menjadi 171. Luas area terbakar yang tercatat juga menyusut dari 1.742 hektare menjadi 695 hektare, dan area yang berstatus belum padam turun dari 577 menjadi 253 hektare. Meski angka-angka ini menunjukkan indikasi positif, Berton menekankan bahwa data tersebut harus diverifikasi melalui pemeriksaan fisik di lapangan karena hasil pemantauan dapat berubah seiring pembaruan data. Pemantauan udara yang dilakukan Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi dan Kepala BMKG Teuku Faisal pada 31 Oktober lalu menunjukkan kepulan asap dan sejumlah titik api di Kabupaten Merauke masih terlihat jelas.
Optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca dan Koordinasi Antar-Instansi
Untuk mempercepat respons di lokasi kebakaran, penanganan dipertegas melalui integrasi teknologi dan koordinasi lintas sektor. BNPB dan BMKG mengintensifkan pemantauan berbasis satelit serta penggunaan drone untuk verifikasi titik api secara real-time. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut dilangsungkan dengan 13 sorti penyemaian awan menggunakan total 13.000 kilogram NaCl hingga 31 Oktober, bertujuan meningkatkan peluang hujan di wilayah sasaran. Meskipun OMC menjadi upaya pendukung, pemadaman langsung tetap menjadi prioritas utama. Berton juga menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar guna mencegah munculnya titik api baru, dengan melibatkan koordinasi BPBD, pemerintah daerah, TNI-Polri, dan Manggala Agni.
BERITA TERKAIT (Agama)

Banjir Lahar Semeru Rendam Tiga Kecamatan di Lumajang, Tanggul Jebol

Banjir Lahar Semeru Lumpuhkan Jembatan di Lumajang, Warga Terisolasi

Kapolda Jatim Ingatkan Siswa SMAN 10 Surabaya soal Narkoba Berkedok Vape
