Bahlil Lahadalia Dorong Hilirisasi Logam Tanah Jarang ala China untuk Kuatkan Tawar Indonesia

Bahlil Lahadalia, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri ESDM, menyatakan bahwa Indonesia perlu meniru pendekatan China dalam pengelolaan sumber daya alam, khususnya melalui hilirisasi logam tanah jarang. Menurut Bahlil, strategi tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi tawar Indonesia dalam hubungan geopolitik global, mirip dengan dinamika tarik-menarik antara China dan Amerika Serikat yang dipicu oleh kontrol atas industri hilirisasi mineral strategis tersebut.
Bahlil menyampaikan pandangan ini dalam acara Opening Ceremony Minerba Convex 2026 di Jiexpo Convention Center, Jakarta Pusat, pada Senin (2/11). Ia menekankan bahwa kekayaan mineral Indonesia harus diolah di dalam negeri untuk menghasilkan nilai tambah, alih-alih sekadar menjual bahan mentah seperti pola kolonialisme zaman VOC. Kebijakan ini mengacu pada Pasal 33 UUD 1945 yang mengamanatkan penguasaan SDA oleh negara demi kesejahteraan rakyat, terutama di tengah ketidakpastian global yang mendorong harga minyak melampaui US$100 per barel.
Reorientasi Pola Ekspor dari Bahan Mentah ke Industri Bernilai Tambah
Menurut Bahlil, perubahan paradigma pengelolaan SDA merupakan kunci untuk memutus ketergantungan Indonesia sebagai penyuplai bahan baku mentah. Ia mengibaratkan pola lama sebagai praktik kolonial di mana bahan baku dibawa keluar, diolah di negara lain, dan hasilnya dijual kembali. Untuk mengubah hal tersebut, Indonesia harus membangun ekosistem industri hilirisasi yang komprehensif, dimulai dari pertambangan hingga produk akhir bernilai tinggi. Indonesia memiliki aset strategis yang besar, termasuk cadangan nikel terbesar di dunia, batu bara peringkat keenam global, serta eksportir timah terbesar dunia.
Bukti Nyata Hilirisasi: Lompatan Nilai Ekspor Nikel dan Ekosistem Baterai
Keberhasilan kebijakan hilirisasi nikel menjadi preseden utama yang membuktikan potensi lompatan ekonomi Indonesia. Bahlil memaparkan data signifikan berikut:
- Nilai ekspor nikel pada tahun 2017-2019 hanya sekitar US$3,3 miliar saat masih berbasis bijih mentah.
- Setelah kebijakan penghentian ekspor bijih dan pembangunan smelter, nilai ekspor melonjak menjadi US$33 miliar hingga US$34 miliar pada periode 2023-2024.
Kepemimpinan industri Indonesia juga semakin nyata melalui pembangunan tiga pabrik baterai yang terintegrasi penuh, mulai dari smelter teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), produksi prekursor dan katoda, hingga sel baterai. Produk prekursor dan katoda Indonesia kini telah berhasil dipasok ke pasar AS. Capaian ini membuktikan bahwa hilirisasi mampu memposisikan Indonesia sebagai produsen komponen teknologi, bukan sekadar pemasok bahan mentah. Pengalaman sukses di sektor nikel ini menjadi pijakan fundamental untuk mengembangkan pengolahan komoditas mineral lain, termasuk logam tanah jarang, guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional di masa depan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

KKP Targetkan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih dan 4.582 Kapal untuk Dongkrak Kesejahteraan hingga 2029

Sinar Mas dan Salim Group Buka Suara: Boss Sawit Diklarifikasi di Singapura terkait Karhutla

Pendapatan Telkom Tembus Rp113,5 Triliun, Transformasi TLKM 30 Dorong Pertumbuhan Digital
