Yesh Din Catat 135 Serangan Selama Musim Panen Zaitun di Tepi Barat
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Kekerasan yang melibatkan pemukim Israel terhadap warga Palestina dan aktivis internasional melonjak tajam selama periode panen buah zaitun di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Data terbaru dari kelompok hak asasi manusia Israel, Yesh Din, merekam sedikitnya 135 insiden serangan fisik terkait aktivitas pertanian tersebut sejak akhir September hingga 23 Oktober 2026, menunjukkan eskalasi konflik di musim panen yang berlangsung hingga November ini.
Dinamika Serangan di Desa Kafr Malik
Puncak ketegangan terjadi pada Jumat (30/10/2026) di Desa Kafr Malik, tempat sekelompok pemukim melancarkan agresifitas saat panen berlangsung. Rekaman menunjukkan para pelaku, sebagian terlihat membawa tongkat dan menggunakan penutup wajah, termasuk keffiyeh yang menjadi simbol nasionalisme Palestina, mengerahkan kekerasan fisik. Dalam insiden tersebut, seorang aktivis dilaporkan mengalami luka dan segera mendapatkan pertolongan dari petugas medis di lokasi kejadian.
- Testimoni Saksi: Warga Palestina bernama Jafar mengklaim bahwa pasukan Israel justru melindungi para pemukim dan tidak menghentikan kekerasan, sekaligus menghalangi akses warga Palestina ke tanah mereka sendiri.
- Respons Militer: Juru bicara militer Israel menyatakan bahwa pasukan merespons laporan pemukim mengenai pelemparan batu oleh warga Palestina. Dalam pernyataan tersebut, militer juga mengonfirmasi penangkapan dua warga Palestina, namun tidak memberikan tanggapan spesifik terkait tuduhan serangan oleh pemukim.
Lonjakan angka serangan fisik ini menegaskan bahwa musim panen zaitun bukan lagi sekadar aktivitas agraris, melainkan telah menjadi medan benturan yang berkepanjangan antara komunitas pemukim dan penduduk setempat, dengan konsekuensi keselamatan yang meningkat bagi para pekerja pertanian dan aktivis yang hadir.


