BMKG: Peralihan Musim Hujan Mundur, El Nino Kuat Picah Ancaman Kekeringan Pertanian
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Perkawinan antara sisa dampak El Nino dan peralihan musim hujan yang tidak serempak di seluruh Indonesia menciptakan dilema bagi ketahanan pangan nasional. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menyoroti urgensi penyesuaian kalender tanam untuk mitigasi risiko kekeringan dan banjir yang mengancam produksi sektor pertanian. Kondisi ini bukan sekadar fluktuasi cuaca biasa, melainkan pola iklim yang menuntut intervensi spesifik dari pemerintah dan pelaku agribisnis di tingkat lokal.
Dua Ancaman Iklim: El Nino Kuat dan Kekeringan Berkepanjangan
Dalam Rapat Koordinasi Terbatas Bidang Pangan yang digelar pada Senin (26/10/2026), BMKG memaparkan data bahwa Indeks Nino 3.4 periode Agustus-Oktober 2026 mencapai +3,05°Celcius, mengindikasikan fase El Nino yang sangat kuat. Kombinasi nilai tersebut dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif sebesar +0,63 memperpanjang periode kering di banyak daerah. Hingga saat ini, tercatat 1.707 titik wilayah mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori ekstrem panjang, sebuah indikator kritis yang mengancam ketersediaan air untuk irigasi. El Nino diprediksi bertahan hingga awal 2027, sehingga manajemen tata air harus diintensifkan sebelum musim hujan benar-benar tiba.
Distribusi Waktu Masuk Musim Hujan 2026/2027
BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim hujan secara bertahap pada November dan Desember 2026, dimulai dari Sumatra bagian utara. Namun, secara keseluruhan, 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08% luas daratan Indonesia akan mengalami keterlambatan masuknya musim hujan dibandingkan normalnya. Sebaliknya, mayoritas wilayah, yaitu 482 ZOM atau 51,90%, diprediksi akan memiliki durasi musim hujan yang lebih pendek dari normal. Rincian teknis peralihan iklim dan prakiraan jangka pendek yang menjadi acuan utama dalam pengendalian pertanian adalah sebagai berikut:
- Sebagian besar wilayah Indonesia (185 ZOM, 24,66% luas daratan) diprediksi masuk musim hujan pada November 2026, disusul oleh 266 ZOM (17,31%) pada Desember 2026.
- Pada periode 25 Oktober hingga 2 November 2026, pertumbuhan awan hujan signifikan diprakirakan terjadi di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Maluku Utara, dan sebagian Sulawesi, sementara Bali, NTB, dan NTT masih relatif kering.
- Curah hujan dari Desember 2026 hingga April 2027 diprediksi berkisar antara kategori menengah hingga sangat tinggi, berbeda-beda antar wilayah.
Sebagai respons, BMKG merekomendasikan optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah prioritas yang memiliki potensi pertumbuhan awan untuk menambah tampungan air. Langkah preventif ini harus berjalan seiring dengan penyiapan jaringan irigasi cadangan dan mitigasi banjir di sentra-sentra pangan. Informasi pemutakhiran iklim ini merupakan instrumen teknis wajib bagi Kemenko Pangan dan lembaga terkait dalam merumuskan keputusan operasional untuk menjaga stabilitas produksi pangan di tengah variabilitas cuaca yang ekstrem.


