Bom Molotov Picu Kecamuran Demo Prancis, 565 Orang Diringkus di Tengah Gelombang Biaya Hidup

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Internasional & CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Bom Molotov Picu Kecamuran Demo Prancis, 565 Orang Diringkus di Tengah Gelombang Biaya Hidup
BAGIKAN:

Aksi protes akhir pekan ketiga yang memprotes lonjakan biaya hidup di Prancis berubah menjadi kerusuhan serius pada Sabtu (31/10), di mana polisi mengamankan 565 orang setelah bentrokan pecah di Paris dan kota-kota lain. Meskipun mayoritas peserta demonstrasi, yang sebagian besar mengenakan kostum Halloween, bergerak dalam pawai, kelompok perusuh memicu kekerasan yang melukai empat petugas polisi dan seorang anggota gendarmerie, dengan tiga di antaranya mengalami luka bakar akibat bom molotov.

Escalasi Kekerasan dan Respons Aparat

Laporan dari lapangan menunjukkan bahwa puluhan demonstran bertopeng berpakaian serba hitam menggunakan palu untuk mencungkil batu trotoar dan melemparkannya ke arah aparat. Kepolisian merespons dengan meratakan gas air mata dan melakukan tindakan tegas menggunakan tongkat, sementara Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa elemen-elemen radikal di Bordeaux, Toulouse, dan Marseille berupaya memasuki pusat kota dengan tujuan melakukan vandalisme dan penjarahan. Di Toulouse, petugas menggunakan meriam air untuk membubarkan aksi unjuk rasa tanpa izin yang melibatkan beberapa ribu orang.

  • Angka Penangkapan: Lebih dari 500 orang ditangkap, dengan total resmi 565 tersangka diringkus di seluruh Prancis.
  • Korban Luka: Empat polisi dan satu gendarmerie terluka di Paris; tiga di antaranya menderita luka bakar dari bom molotov.
  • Regulasi Darurat: Jam malam diberlakukan di kawasan Republique dan Chatelet-Les Halles, Paris, dari pukul 23.00 hingga 06.00 pada Sabtu (31/10) dan Minggu (1/11).

Konteks Politik yang Memanas

Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengecam kericuhan tersebut dan menyebut insiden pelemparan bom molotov ke arah petugas antihuru-hara sebagai "percobaan pembunuhan", sekaligus menuding kelompok ekstremis sayap kiri sebagai pihak yang bertanggung jawab. Ia menegaskan kesiapan penuh pemerintah dalam menghadapi mereka yang mencari konfrontasi. Di sisi lain, Marine Le Pen, pemimpin kelompok sayap kanan yang saat ini memimpin jajak pendapat pemilihan presiden, menyatakan bahwa pelaku serangan bom molotov harus dihukum seberat-beratnya, seraya menyebut rekaman petugas polisi yang terbakar sebagai sesuatu yang "tak sanggup untuk dilihat".

Gerakan protes ini melibatkan aktivis Yellow Vest, serikat pekerja, serta pelajar dan mahasiswa, yang awalnya berfokus pada isu kenaikan biaya hidup, ketimpangan, dan memburuknya kondisi sarana pendidikan. Menyusul cedera serius yang dialami sejumlah pengunjuk rasa akibat tindakan keras aparat, tuntutan gerakan ini kini diperluas untuk mencakup perlindungan kebebasan sipil dan hak untuk berunjuk rasa. Situasi kekacauan ini terjadi di tengah iklim politik Prancis yang memanas menjelang pemilihan presiden yang akan digelar kurang dari enam bulan lagi.

Meow! Tanya Nesi!
😸