Makro Solid Jadi Benteng Indonesia Hadapi Gelombang Tekanan Global
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak yang berpotensi memperlambat laju pertumbuhan global serta meningkatkan inflasi di berbagai negara, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan posisi Indonesia yang masih aman. Optimisme ini berakar pada fundamental ekonomi makro dalam negeri yang dinilai solid dan mampu menjadi perisai terhadap tekanan eksternal tersebut.
Modal Makro: Pertumbuhan Kuat dan Stabilitas Harga
Dalam paparannya di Rapat Pimpinan Nasional KADIN pada Jumat (30/10/2026), Suahasil merinci tiga pilar utama yang menopang ketahanan ekonomi nasional. Pilar pertama adalah momentum pertumbuhan ekonomi semester I 2026 yang mencapai 5,45% yoy, didorong oleh permintaan domestik, investasi, dan kebijakan pemerintah. Kedua, inflasi nasional terkendali di angka 3,28% yoy hingga September, tetap berada dalam rentang target resmi pemerintah yaitu 1,5% hingga 3,5%. Ketiga, sektor manufaktur menunjukkan ekspansi jelas dengan PMI berada di level 52,4 pada September 2026, yang menandakan peningkatan produksi, penyerapan tenaga kerja, dan kepastian permintaan.
- Neraca Perdagangan: Surplus sebesar US$7,25 miliar untuk periode Januari-Agustus 2026.
- Pertumbuhan Kredit: Mencapai 13,26% pada September 2026, didorong kuatnya kredit investasi.
- Inflow Asing: Masuk secara akumulatif sebesar Rp127,7 triliun hingga 23 Oktober 2026 melalui instrumen SBN dan SRBI.
Sinyal Optimisme Dunia Usaha dan Modal Asing
Suahasil menekankan bahwa kombinasi pertumbuhan 5,4% dan inflasi 3,3% diiringi PMI di atas 50 merupakan indikator positif bahwa dunia usaha sedang dalam mode ekspansi dan optimis. Angka PMI tersebut mengisyaratkan bahwa pelaku industri meningkatkan pembelian input produksi karena antisipasi tambahan permintaan. Selain sektor riil, kepercayaan investor asing terhadap instrumen investasi domestik juga terlihat dari aliran modal masuk yang terus deras, memperkuat ketahanan likuiditas dan ekonomi nasional menghadapi ketidakpastian global.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DJP Klarifikasi: GOTO dan Lazada Bukan Pemungut Pajak Digital, Cakupan SPP-TDLN Masih Terbatas

Bahlil Tutup Akses Ekspor Listrik ke Singapura, Perintahkan Danantara Tolak Lobi

Andalkan Empat Segmen Bisnis, Telkom Rebut Target Laba Bersih Rp14,4 T di Kuartal III 2026
