Banjir Bandang Jebolkan Danau Gletser Shintaphu, Akses Wisata Gasa Tshachu Putus
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Arus deras akibat jebolnya danau glasial Shintaphu menerjang kawasan wisata pemandian air panas Gasa Tshachu di Bhutan larut malam pada Jumat (30/10/2026). Peristiwa itu memicu kerusakan infrastruktur signifikan di wilayah utara negara pegunungan Himalaya tersebut, sekaligus memutus jalur akses utama menuju desa Laya hingga waktu yang belum ditentukan.
Proses Evakuasi dan Dampak Infrastruktur
Menurut laporan surat kabar nasional Bhutan, Kuensel, yang dikutip oleh Reuters, warga di kawasan terdampak telah dievakuasi sebelum gelombang banjir bandang tiba. Hal ini sejalan dengan pernyataan penyiar nasional Bhutan, BBS, yang mengonfirmasi tidak ada korban jiwa maupun luka dalam bencana tersebut. Meskipun demikian, skala kerusakan fisik belum dapat dipastikan secara akurat karena kondisi malam hari yang gelap dan intensitas aliran air yang sangat deras saat kejadian berlangsung.
- Dua jembatan Bailey yang dirakit dari komponen portabel diduga hanyut terbawa arus banjir.
- Sebagian jalan menuju desa Laya dilaporkan rusak dan tidak dapat dilalui, memaksa penutupan akses lalu lintas total.
- Penyebab utama adalah jebolnya danau glasial Shintaphu, fenomena yang terjadi ketika air dari danau pencairan gletser keluar secara tiba-taba.
Konteks Bahaya Banjir Glasial di Himalaya
Fenomena banjir glasial atau glacial lake outburst flood (GLOF) ini mengancam wilayah hilir dengan potensi menghancurkan jalur transportasi dan permukiman. Kawasan Gasa Tshachu sebenarnya bukan pertama kali menghadapi ancaman serupa; pada tahun 2021, area pemandian air panas tersebut pernah terendam banjir bandang saat aliran Sungai Mochhu mengubah arah. Kecelakaan ini menambah daftar panjang peringatan dini di kawasan Himalaya, di mana ancaman serupa juga dirasakan di Nepal. Di negara yang berbatasan dengan China dan terletak sekitar 600 kilometer di sebelah barat Bhutan itu, banjir bandang yang terjadi pada Agustus lalu telah merenggut nyawa lebih dari 1.500 orang serta menyebabkan lebih dari 5.000 orang hilang.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Uji Produksi Minyak Prabumulih Melebihi Target 192%

BPS Catat Inflasi Oktober 2026 Turun Jadi 3,23%, Harga Bensin dan Emas jadi Pemicu

Lonjakan Harga Pangan Awal November: Bawang Merah Melonjak 89,7%
