Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Palembang Diguyur Hujan Lebat Usai Lebih dari Tiga Bulan Dilanda Kemarau dan Asap Karhutla

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Palembang Diguyur Hujan Lebat Usai Lebih dari Tiga Bulan Dilanda Kemarau dan Asap Karhutla
BAGIKAN:

Hujan lebat mengguyur sejumlah kawasan di Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Sabtu (24/10) sekitar pukul 15.30 WIB. Turunnya hujan ini mengakhiri periode kemarau panjang yang berlangsung lebih dari tiga bulan dan memicu kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.

Menurut keterangan warga Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Fudin, hujan membawa dampak langsung bagi masyarakat yang selama berbulan-bulan terdampak kekeringan dan gangguan kesehatan akibat asap karhutla. Warga lain di Lorong Sepakat, Kelurahan 8 Ulu, Yuli, menyatakan bahwa turunnya hujan meringankan beban ekonomi karena sebelumnya mereka terpaksa membeli air bersih dengan harga mahal untuk kebutuhan sehari-hari.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, menjelaskan bahwa potensi pertumbuhan awan hujan telah terdeteksi melalui pengamatan radiosonde oleh BMKG Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang pada Sabtu pagi pukul 07.00 WIB. Dinamika pergerakan angin vertikal berhasil memecah lapisan inversi atmosfer yang selama ini mengunci polutan asap di dekat permukaan tanah.

Pembentukan awan hujan tersebut juga didukung oleh percepatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara hybrid yang dilakukan tim gabungan. Operasi ini mencakup penyebaran material dry ice atau karbon dioksida padat secara intensif di udara serta penyemaian menggunakan bahan NaCl guna mengurai gumpalan kabut asap karhutla di Sumatera Selatan.

Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan sebelumnya telah menerbitkan prediksi bahwa wilayah provinsi itu mulai mengalami hujan pada rentang 24-26 Oktober 2026. Berdasarkan data stasiun tersebut, beberapa wilayah bahkan tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 100 hari setelah dilanda kemarau panjang lebih dari empat bulan.

Terkait kualitas air hujan pertama setelah kemarau panjang, Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel menyebutkan bahwa hujan tersebut tidak otomatis berbahaya. Namun, debu, partikulat, dan polutan dari pembakaran yang terakumulasi di atmosfer selama kemarau dapat terbawa bersama air hujan ke permukaan. Air hujan juga secara alami sedikit asam akibat interaksi dengan karbon dioksida, dengan tingkat keasaman bergantung pada kondisi lingkungan setempat.

Atas dasar itu, Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel meminta warga menghindari kontak langsung secara berlebihan dengan air hujan di wilayah terdampak asap, membilas kulit dengan air bersih jika terkena air hujan, serta tidak langsung menggunakan air hujan untuk minum atau memasak tanpa pengolahan yang sesuai. Warga juga diimbau memantau informasi kualitas udara dan cuaca dari sumber resmi BMKG.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ