Uang Beredar Tembus Rp10.587,9 Triliun pada September 2026, Kredit Korporasi Tumbuh 20,3 Persen

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Sumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Uang Beredar Tembus Rp10.587,9 Triliun pada September 2026, Kredit Korporasi Tumbuh 20,3 Persen
BAGIKAN:

Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp10.587,9 triliun pada September 2026. Menurut keterangan resmi Bank Indonesia (BI) yang dirilis Jumat (23/10), angka tersebut tumbuh 8,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat tipis dari pertumbuhan Agustus 2026 yang berada di level 8,2 persen.

Pertumbuhan M2 ini terutama ditopang oleh uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang kuasi. Posisi M1 tercatat sebesar Rp6.029,3 triliun atau mencakup pangsa 56,9 persen dari total M2, dengan pertumbuhan 9,0 persen secara tahunan. Sementara itu, uang kuasi berada di posisi Rp4.498,8 triliun dan tumbuh 7,3 persen. BI menjelaskan bahwa pergerakan likuiditas ini dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada pemerintah pusat yang berbalik tumbuh positif 24,4 persen setelah sebelumnya kontraksi 7,0 persen pada Agustus, serta aktiva luar negeri bersih yang kembali mencatatkan pertumbuhan 1,0 persen.

Dari sisi penyaluran kredit perbankan, total kredit mencapai Rp9.078,2 triliun atau tumbuh 12,7 persen secara tahunan pada September 2026. Pertumbuhan ini sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 13,3 persen. Penyaluran kredit terutama didorong oleh debitur korporasi yang tumbuh 20,3 persen, meskipun angka ini lebih rendah dari pertumbuhan Agustus yang mencapai 21,6 persen. Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi tumbuh paling tinggi yakni 21,0 persen, disusul kredit modal kerja 12,7 persen, dan kredit konsumsi 4,7 persen.

Sektor-sektor tertentu menjadi pendorong utama penyaluran kredit. Kredit modal kerja meningkat berkat penyaluran ke sektor listrik, gas, dan air bersih, serta pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, dan jasa-jasa. Di sisi lain, kredit investasi banyak mengalir ke sektor konstruksi, pertambangan dan penggalian, serta listrik, gas, dan air bersih. Namun demikian, kredit kendaraan bermotor masih mengalami kontraksi hingga 9,7 persen secara tahunan.

Penyaluran kredit kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga mencatatkan peningkatan. Total kredit UMKM mencapai Rp1.539,2 triliun atau tumbuh 2,7 persen secara tahunan, naik dari pertumbuhan Agustus yang sebesar 2,3 persen. Kenaikan ini bersumber dari kredit investasi UMKM yang tumbuh 14,9 persen, sementara kredit modal kerja UMKM masih mengalami kontraksi 2,6 persen.

Di sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) perbankan tercatat sebesar Rp9.895,8 triliun atau tumbuh 8,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan DPK didominasi oleh nasabah korporasi yang tumbuh 11,3 persen, sedangkan DPK perorangan tumbuh relatif stabil di angka 3,6 persen. Terkait suku bunga, rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada September 2026 bertahan di level 8,9 persen. Sebaliknya, suku bunga simpanan berjangka mengalami kenaikan pada beberapa tenor, seperti tenor satu bulan yang naik menjadi 5,3 persen dari 5,1 persen pada bulan sebelumnya.

Meow! Tanya Nesi!
😸