Empat Nyawa Melayang di Bromo, Komisi IV DPR Desak Prabowo Bertindak Tegas Atasi Karhutla

Empat nyawa melayang saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), memicu kemarahan publik sekaligus sorotan tajam dari Komisi IV DPR. Peristiwa tragis pada Kamis (15/10) ini menjadi bukti nyata bahwa bencana ekologis tersebut tidak lagi sekadar merusak lingkungan, tetapi telah merenggut keselamatan jiwa warga negara dan petugas lapangan.
Alex, anggota dewan yang vokal menyuarakan isu agraria dan lingkungan, menegaskan bahwa dampak karhutla kini menyentuh sisi paling manusiawi. "Karhutla sudah tak lagi merusak kesehatan, tapi juga telah memaksa seorang orang tua kehilangan anaknya. Seorang anak kehilangan ayah. Bahkan, tanaman dan satwa langka juga musnah," ujar Alex dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10). Ia mempertanyakan urgensi tindakan pemerintah pusat menghadapi situasi darurat yang berulang setiap musim kemarau ini.
Data korban jiwa di Probolinggo ini menambah daftar panjang penderitaan akibat asap dan api. Selain empat meninggal dunia, tercatat 324 luka berat dan 23 luka ringan, mayoritas berasal dari Provinsi Kalimantan Tengah. Lebih mengerikan lagi, Kementerian Kesehatan merekapitulasi 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) kumulatif per 12 Oktober 2026. Angka ini tersebar di 63 kabupaten/kota dari tujuh provinsi terdampak, dengan 62.400 kasus atau 22,5 persen menimpa balita usia 0-5 tahun.
Rincian identitas para pahlawan yang gugur menunjukkan keberanian mereka di garis depan. Tiga korban meninggal langsung di lokasi kejadian adalah Sukaris (55), Wisnu Yuda Pratama (25), dan Sefriel Ardiansyah (19). Korban keempat, Hendra Rony Wagiyanata alias Cak Panda, merupakan Manggala Agni Pemula di Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I, Balai Besar TNBTS. Cak Panda menghembuskan napas terakhir setelah sempat dirawat karena menderita luka bakar serius akibat terjebak kepungan api di kawasan Mentigen.
Sementara itu, dua rekan mereka, Munawi dari satuan Masyarakat Peduli Api dan Suraji yang bekerja sebagai sekuriti hotel setempat, masih menjalani perawatan intensif. Menanggapi akumulasi data kematian dan kesakitan ini, Alex mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengambil langkah konkret tanpa menunggu jatuhnya korban berikutnya. "Kalau negara ini tak memiliki peralatan, tentu akan banyak bangsa yang bersedia turut membantu seperti yang dilakukan Jepang beberapa waktu lalu," kata Alex, menekankan pentingnya diplomasi bantuan internasional jika kapasitas domestik terbatas.
Analisis Redaksi
Tragedi di Bromo bukan sekadar kecelakaan kerja, melainkan cermin kegagalan sistemik dalam manajemen bencana nasional. Ketika angka ISPA mencapai ratusan ribu dan korban jiwa terus berjatuhan di berbagai wilayah, respons reaktif semata tidak lagi memadai. Desakan agar presiden turun tangan secara personal mengindikasikan adanya kekhawatiran bahwa koordinasi antar-lembaga di tingkat teknis sering kali lambat dan birokratis, sehingga memakan waktu kritis dalam penyelamatan nyawa.
Pemikiran tentang bantuan asing, khususnya dari Jepang, membuka diskursus baru mengenai keterbatasan infrastruktur pemadaman udara dan darat Indonesia. Namun, alih-alih hanya mengandalkan bantuan luar negeri, fokus utama seharusnya bergeser pada pencegahan struktural: penegakan hukum terhadap korporasi pembakar lahan dan peningkatan kesejahteraan serta perlindungan alat pelindung diri bagi petugas Manggala Agni. Tanpa perubahan paradigma dari 'pemadaman' ke 'pencegahan', siklus kematian ini akan terus berulang di musim-musim mendatang.
BERITA TERKAIT (Politik)

MA Batalkan Suket Ijazah Gibran, Elite Politik Tuntut Penegasan Status Wapres

Demokrat Nilai Gibran Tak Lagi Memenuhi Syarat Wapres Usai MA Putuskan Suket Tidak Sah

Klarifikasi Wamendagri: Insentif Rp1 Triliun untuk Pemda Cakup Stunting, Rumah, dan Inflasi
