Asap Karhutla Sepiham Pariwisata Batam, Feri Internasional Tetap Jalan Meski Visibilitas Turun
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gedung pencakar langit Singapura kini tak terlihat dari Batam akibat kabut asap pekat kiriman kebakaran hutan dan lahan di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Kondisi ini telah berlangsung sejak Rabu (14/10), di mana langit negeri jiran tertutup total, memusnahkan panorama visual yang biasanya menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dari Sekupang dan Belakang Padang. Fenomena ini bukan sekadar masalah estetika, melainkan indikator nyata betapa tebalnya polutan yang membekap Kepulauan Riau, mengubah hari yang cerah menjadi sore yang suram dan kabur.
Dampak langsung dari ketiadaan pemandangan ini terasa di sektor informal. Eko, warga Batam yang berjualan di pinggir laut kawasan Sekupang, mengaku kehilangan sumber penghasilan karena pengunjung tidak lagi datang. "Dari rabu kemarin, sudah tidak terlihat lagi Singapura dari Batam," kata Eko saat ditemui Kamis (15/10). Biasanya, pantai Sekupang ramai pada sore hari berkat panorama Singapura yang jelas. Kini, keramaian itu berubah menjadi keheningan yang merugikan pedagang kecil. Joni, warga lain di sekitar lokasi, menambahkan bahwa kebanyakan pengunjung datang untuk berswafoto dengan latar gedung pencakar langit yang kini tidak ada.
Sepinya pengunjung ini meluas hingga ke pusat Kota Batam. Kawasan ikonik Welcome To Batam di Batam Center, yang merupakan pusat kuliner, juga tertutup kabut asap dan sepi. Santi, salah satu pedagang minuman di sana, mengungkapkan bahwa biasanya kawasan ini dipadati wisatawan dari Malaysia dan Singapura. "Sepi pengunjung, akibat kabut asap. Biasanya, ramai yang datang," kata Santi kepada CNNIndonesia.com. Kehilangan aksesibilitas visual ke Singapura membuat wisatawan enggan datang, sehingga putaran ekonomi lokal terganggu secara signifikan.
Secara operasional, otoritas maritim menyatakan aktivitas pelayaran masih berjalan normal, albeit dengan kewaspadaan lebih. Kepala Bidang Keselamatan Berlayar, Penjagaan, dan Patroli (KBPP) KSOP Khusus Batam Yuzirwan Nasution menegaskan belum ada laporan gangguan pada pelayaran internasional, termasuk feri ke Singapura dan Malaysia. Meskipun jarak pandang darat ke Singapura hilang, visibilitas antar-kapal masih bisa terjaga. KSOP mengimbau perusahaan pelayaran, keagenan, dan operator kapal untuk tetap waspada dan mengaktifkan radar guna memantau kapal di sekitar. Alat navigasi menjadi penentu keselamatan di tengah asap tebal ini.
Para pedagang dan warga kini hanya bisa berharap pada kekuatan angin. Eko berharap kabut asap tersebut terbawa angin sehingga Singapura kembali terlihat jelas, yang akan memicu kembali semangat pengunjung untuk datang dan berfoto. Dampak ekonomi yang menipis ini menjadi cerminan bagaimana kualitas udara bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga mata pencaharian. Ketika ikon visual sebuah kota mati, industri periwisatanya ikut terpuruk. Ketiadaan data emisi yang akurat dari sumber asal karhutla membuat Batam, sebagai daerah perbatasan, selalu menjadi korban pertama dampak lintas negara ini.
Analisis Redaksi
Menghilangnya Singapura dari pandangan mata di Batam menunjukkan betapa masifnya dampak karhutla tahun ini. Ini bukan lagi sekadar peringatan kesehatan, melainkan anomali visual yang membuktikan betapa tebalnya partikulat di atmosfer. Bagi ekonomi Batam, hal ini adalah kerugian ganda: kehilangan identitas visual pariwisata dan penurunan omzet pedagang.
Respons KSOP yang masih mempertahankan operasi kapal dengan ketat protokol radar menunjukkan sistem maritim kita masih robust, namun ini juga menandakan tingginya risiko kecelakaan. Waspada tidak cukup, perlu mitigasi aktif. Pemerintah pusat perlu segera memotong akar masalah, bukan hanya mengatasi dampaknya di hilir seperti di Batam.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Jatim Raih Satya JKN Awards 2026: Khofifah Perketat Kepatuhan Pekerja dalam Program JKN

Kemenperin Pacu Ekspor Kakao Olahan Lewat FTA, Capai 48% Produksi Asia

Wamentan Saleh: Hilirisasi Jadi Kunci Tingkatkan Kesejahteraan Petani Indonesia
