Kemenperin Pacu Ekspor Kakao Olahan Lewat FTA, Capai 48% Produksi Asia
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakselerasi daya saing industri kakao nasional dengan mengoptimalkan pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA). Langkah strategis ini bertujuan untuk memperluas akses pasar ekspor sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan Indonesia di kancah internasional. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa penguatan industri pengolahan kakao memiliki peran strategis dalam memperkuat struktur industri dalam negeri, memberikan efek berganda mulai dari mendorong pertumbuhan ekspor, menciptakan lapangan kerja baru, hingga meningkatkan kesejahteraan ekonomi bagi petani kakao.
Tren Pertumbuhan Positif dan Dominasi Regional
Data dari Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) menunjukkan tren positif yang kuat pada tahun 2026. Volume grinding kakao pada triwulan III 2026 tercatat sebesar 112.628 ton, naik 2,01 persen dibandingkan periode sebelumnya. Secara kumulatif, total volume grinding hingga triwulan III 2026 mencapai 307.882 ton, setara dengan 72,9 persen dari total produksi sepanjang 2025. Lebih pentingnya lagi, berdasarkan data Cocoa Association of Asia (CAA), Indonesia menyumbang 48 persen dari total grinding kakao Asia yang tercatat sebesar 233.767 ton pada periode yang sama. Capaian ini mengukuhkan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok kakao regional, memberikan peluang besar untuk terus mendominasi pasar Asia.
Dari sisi penjualan, industri mencatatkan lonjakan signifikan dengan volume 93.253 ton pada triwulan III 2026, melonjak 9,5 persen dibanding triwulan sebelumnya. Kenaikan tertinggi didorong oleh penjualan cocoa liquor yang melesat 91,3 persen, diikuti cocoa cake dan cocoa butter. Meskipun penjualan cocoa powder turun tipis 2,9 persen, Plt. Dirjen Industri Agro Putu Juli Ardika memandang perkembangan ini sebagai sinyal positif penguatan industri. Namun, ia mengingatkan pentingnya langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi dan menjamin ketersediaan bahan baku di tengah tantangan cuaca ekstrem seperti curah hujan berkepanjangan dan potensi fenomena El Nino yang mengintai sektor hulu.
Untuk memaksimalkan peluang ekspor melalui FTA, Kemenperin mendorong sinergi lintas sektor antara kementerian, lembaga, asosiasi, dan pelaku usaha. Pelaku industri dituntut untuk memahami ketentuan asal barang (rules of origin), pemenuhan dokumen, serta prosedur ekspor di negara tujuan. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemenperin turut mendukung penyelenggaraan workshop pengembangan ekspor produk kakao. Dengan kombinasi penguatan budidaya adaptif perubahan iklim di hulu dan penetrasi pasar melalui FTA di hilir, Indonesia berkomitmen menjadikan kakao olahan sebagai komoditas unggulan yang kompetitif di pasar global.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Siap-Siap, Warga Jawa dan Sumatra: BMKG Prediksi Hujan Ringan Landa Sebagian Besar Wilayah Hari Ini

Penambahan Daratan 32,8 Hektare di Sekitar Anak Krakatau Diverifikasi, Status 'Pulau Baru' Masih Menunggu Konfirmasi Lapangan

Fenomena Gerah di Indonesia: BMKG Jelaskan Penyebab Udara Lembap Meski Hujan Belum Rutin
