Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pemerintah Uji Coba Tebar 1,5 Ton Dry Ice di Palembang untuk Jarak Pandang

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Pemerintah Uji Coba Tebar 1,5 Ton Dry Ice di Palembang untuk Jarak Pandang
BAGIKAN:

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Dudung Abdurachman, memimpin langsung uji coba penebaran 1,5 ton dry ice di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, sebagai respons atas instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk mengatasi kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Sumatera Selatan.

Pagi itu, udara di sekitar Pangkalan TNI Angkatan Udara terasa berat, bukan hanya karena asap, tetapi juga karena ketegangan aparat yang berkumpul di sana. Bersama Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Dudung meninjau persiapan teknis jelang eksekusi pada Kamis (15/10) lalu. Dry ice, atau es karbon dioksida padat, menjadi instrumen utama dalam manuver ini. Tujuannya jelas: mengangkat lapisan asap yang mengendap rendah di permukaan.

Dudung menegaskan bahwa langkah ini bukan eksperimen sembarangan. "Uji coba penebaran dry ice ini merupakan instruksi langsung presiden untuk membantu mengatasi kabut asap di Sumatera Selatan. Kita akan melihat hasilnya terlebih dahulu, dan apabila efektif, metode ini berpeluang diterapkan di daerah lain," ujarnya saat konferensi pers pada Rabu (14/10) di Palembang. Tekanan dari pusat dirasakan jelas di lapangan, di mana efektivitas metode ini menjadi penentu bagi langkah penanganan di wilayah lain.

Operasi ini melibatkan pesawat Cessna untuk menyebarkan material tersebut di sekitar wilayah Palembang. Pemerintah berharap partikel dingin ini dapat memicu perubahan meteorologis lokal yang cukup signifikan untuk membaiknya kualitas udara. Target yang dipasang cukup ambisius: mengubah jarak pandang dari kisaran 1.000 meter saat ini menjadi 5.000 meter. Sebagian material cadangan juga telah disiapkan di Lampung untuk mengantisipasi meluasnya dampak asap ke provinsi tetangga.

Langkah penebaran dry ice ini bersifat komplementer. Ia tidak menggantikan, melainkan melengkapi upaya konvensional seperti pemadaman api, operasi modifikasi cuaca (OMC), serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran. Jika data dari Palembang menunjukkan kecenderungan positif, replikasi metode ini sudah disiapkan untuk Kalimantan Tengah, tempat kabut asap juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan mobilitas warga.

Analisis Redaksi

Penguatan teknologi dari udara ini menandakan pergeseran paradigma dalam penanganan bencana karhutla, dari responsif-pasif menjadi interaktif-meteorologis. Uji coba dry ice mengindikasikan bahwa pemerintah mengakui keterbatasan metode OMC konvensional dalam kondisi tertentu, atau setidaknya membutuhkan 'booster' untuk mempercepat dispersi asap. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi angin dan ketinggian lapisan inversi, yang tidak bisa dikontrol penuh oleh negara.

Yang perlu diwaspadai adalah euforia keberhasilan teknis di udara tanpa akar masalah di tanah. Jarak pandang 5.000 meter yang ditargetkan hanyalah solusi kosmetik sementara jika sumber api tidak dipadam total. Jika metode ini berhasil, ia berpotensi menjadi standar baru intervensi darurat, namun tidak boleh dianggap sebagai pengganti upaya pencegahan dan penegakan hukum. Publik harus tetap mengawasi apakah hasil uji coba ini benar-benar menurunkan konsentrasi PM2.5, atau hanya sekadar mengubah karakter visual asap tanpa mengurangi toksisitasnya.

Meow! Tanya Nesi!
😸