Korban Tewas Imbas Karhutla Bromo Bertambah Jadi Empat, Cak Panda Menyerah Meski Dilarikan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Empat nyawa melayang. Angka itu adalah harga yang harus dibayar akibat kobaran api di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Satu korban kembali menghembuskan napas terakhirnya, menambah deretan pahlawan yang gugur saat menjalankan tugas mulia memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Probolinggo.
Keempat korban tersebut adalah Hendra Rony Wagiyanata, atau akrab disapa Cak Panda. Ia tercatat sebagai Manggala Agni Pemula pada Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I di bawah naungan Balai Besar TNBTS. Cak Panda sebelumnya masuk dalam daftar korban luka yang menjalani perawatan intensif setelah terjebak kepungan api di sektor Mentigen. Sayang, upaya medis maksimal yang dilakukan tim medis gagal menyelamatkan nyawanya. Luka bakar yang dialaminya terlampau parah sehingga kondisinya terus memburuk.
"Keluarga Besar Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Kementerian Kehutanan menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya Hendra Rony Wagiyanata atau Cak Panda," ujar Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, pada Kamis (15/10) malam. Peristiwa ini menorehkan sejarah kelam bagi unit pemadam kebakaran hutan. Hingga saat ini, total empat petugas dinyatakan meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Sebelumnya, tiga korban dilaporkan tewas di lokasi kejadian. Mereka adalah Sukaris (55), Wisnu Yuda Pratama (25), dan Sefriel Ardiansyah (19). Di sisi lain, dua korban lainnya masih berjuang mempertahankan hidup di ruang perawatan rumah sakit. Mereka adalah Munawi, anggota satuan Masyarakat Peduli Api (MMP TLP), dan Suraji, seorang sekuriti hotel setempat yang turut membantu penanganan kebakaran.
Rudijanta menegaskan bahwa keberanian dan pengorbanan yang ditunjukkan almarhum beserta rekan-rekannya merupakan bentuk tugas mulia yang patut dihormati. "Dedikasi dan pengabdian almarhum dalam menjaga kawasan konservasi akan selalu menjadi bagian dari perjuangan bersama dalam melindungi alam dan lingkungan," katanya. Pihak BB TNBTS turut mengirimkan doa dan harapan terbaik bagi keluarga yang ditinggalkan agar diberikan kekuatan dalam menghadapi cobaan.
"Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kekuatan, dan keikhlasan," ucapnya. Penambahan satu korban jiwa ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari risiko nyata yang dihadapi para pahlawan lingkungan saat berhadapan dengan cuaca ekstrem dan intensitas api yang tak terkendali di lereng gunung.
Analisis Redaksi
Insiden ini menyoroti rapuhnya sistem keselamatan operasi pemadaman kebakaran hutan di TNBTS. Gugurnya empat petugas dalam satu peristiwa serupa menunjukkan adanya risiko operasional yang sangat tinggi. Perlu dievaluasi kembali apakah koordinasi evakuasi dan penggunaan peralatan pelindung diri (APD) telah sesuai standar keselamatan kerja dalam situasi darurat. Kehilangan personel muda seperti Sefriel (19) dan Wisnu (25) menjadi peringatan keras akan kebutuhan pelatihan intensif dan simulasi darurat yang lebih realistis.
Dampak psikologis bagi institusi dan publik tidak bisa diabaikan. Berita ini akan mengubah persepsi masyarakat terhadap risiko yang dihadapi para petugas taman nasional. Pemerintah daerah dan Kementerian Kehutanan wajib bergerak cepat untuk memberikan kompensasi dan dukungan psikososial kepada keluarga korban, baik yang meninggal maupun yang masih dirawat. Tanpa transparansi tinggi dalam investigasi penyebab meluasnya kebakaran dan kegagalan evakuasi awal, kepercayaan publik terhadap kemampuan manajemen TNBTS dalam mencegah karhutla di masa depan akan terus tergerus.
BERITA TERKAIT (Kriminal)

Polisi Ciduk Pria di Jakbar Terciduk Belanja Vape Berisi Etomidate Pakai Rp 20 Juta Uang Palsu

Rekonstruksi Kasus: Ayah Tiri dan Ibu Kandung Saling Tuduh Soal Pembungkus Jenazah Bayi 20 Bulan

Polda Banten Tetapkan 14 Tersangka Penimbun BBM Subsidi dengan Modus Modifikasi Truk
