Antrean BBM Ratusan Meter di Buleleng, Bupati Klaim Stok Aman hingga 15 Oktober
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Antrean kendaraan roda dua dan roda empat mengular mencapai ratusan meter di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Buleleng, Bali, saat warga menghabiskan waktu berjam-jam demi mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).
Di SPBU Jalan Gajah Mada, Singaraja, situasi tersebut tercatat pada Rabu (14/10). Panjang antrean yang meluber ke jalan raya tersebut memaksa warga untuk menunggu dalam durasi yang sangat panjang. Hal ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan berdampak langsung pada produktivitas harian mereka. Seorang warga, Edy Toro, mengungkapkan dia telah mengantre sekitar dua jam hanya untuk mengisi kendaraan yang menjadi alat kerja utama."Sudah sekitar dua jam saya mengantre. Antreannya panjang banget. Tetapi, mau tidak mau harus nunggu karena kendaraan perlu BBM buat kerja. Kalau terus kayak gini, tidak bisa kerja," ujar Toro.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, akhirnya buka suara terkait kekacauan distribusi di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa secara fundamental, Artikel TerkaitBPS: Lonjakan Harga Cabai dan Beras Dorong Inflasi Oktober 2026 Capai 0,22 Persen
Sutjidra menjelaskan bahwa pasokan dipastikan sudah mencukupi untuk seluruh Bali hingga tanggal 15. "Kami sudah memantau beberapa lokasi SPBU. Antrean sudah mulai agak lengang. Memang masih ada antrean, tetapi pasokannya dipastikan sudah mencukupi untuk seluruh Bali sampai tanggal 15. Setelah tanggal 15 ada lagi pasokan," kata Sutjidra. Ia menambahkan bahwa Pertamina telah memastikan pasokan, dan Pemkab Buleleng menugaskan Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Koperasi UKM untuk memantau kondisi di lapangan secara berkala.
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

Neraca Dagang RI Cetak Surplus 10,61 Miliar Dolar AS Jan-Sep 2026, Ekspor Kuat Jaga Stabilitas

BPS: Lonjakan Harga Cabai dan Beras Dorong Inflasi Oktober 2026 Capai 0,22 Persen

BPS Catat Ekspor RI Januari-September 2026 Tembus US$221,23 Miliar, Didorong Lonjakan Komoditas Unggulan
