Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Tito Karnavian Lantik 7 Pejabat Madya Kemendagri, Tekankan Loyalitas di Atas Segalanya

PolitikBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Tito Karnavian Lantik 7 Pejabat Madya Kemendagri, Tekankan Loyalitas di Atas Segalanya
BAGIKAN:

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian secara resmi melantik tujuh pejabat pimpinan tinggi madya dan struktural akademik di lingkungan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Gedung Sasana Bhakti Praja, Jakarta, Selasa (13/10). Ia menegaskan bahwa loyalitas menjadi prasyarat utama bagi para pejabat yang diangkat langsung di bawahnya, melebihi sekadar kecerdasan atau kompetensi teknis. "Saya menyadari bahwa yang benar memang nomor satu loyalitas, yang pinter banyak," ujar Tito saat menyampaikan pidato pelantikan. Bagi Tito, seorang pemimpin tidak bisa bekerja sendirian atau one man show; kekuatan seorang pimpinan lahir dari kelompok pendukung yang solid dan setia.

Proses pelantikan kali ini mencakup empat Jabatan Pimpinan Tinggi Madya (Eselon I), satu Staf Khusus, satu Plt. Badan, dan satu Wakil Rektor IPDN. Mereka yang menerima sumpah jabatan meliputi Irjen Wahyu Bintono Hari Bawono; Dirjen Bina Pemdes Bernhard Rondonuwu; Kepala Badan Pengembangan SDM Andi Ony Prihartono; Staf Ahli Bidang Hubungan Kemasyarakatan La Ode Ahmad Pidana Bolombo; serta Staf Ahli Bidang Ekonomi Benni Irwan. Tito juga melantik Sang Made Mahendra Jaya sebagai Staf Khusus Bidang Keamanan dan Hukum, Yusharto Huntoyungo sebagai Wakil Rektor Bidang Hukum IPDN, dan Raden Gani Muhamad sebagai Plt. Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri.

Fokus utama Tito tertuju pada posisi Inspektur Jenderal (Irjen) Kemendagri, yang menurutnya memiliki kedudukan unik dibandingkan inspektorat di kementerian lain. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, Itjen Kemendagri tidak hanya mengawasi internal, tetapi juga mengoordinasikan pembinaan dan pengawasan terhadap inspektorat pemerintah daerah (Pemda) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota se-Indonesia. "Kita juga memiliki kewenangan berdasarkan undang-undang dapat melakukan pemeriksaan kepada pemerintahan daerah yang enggak bisa dikerjakan oleh kementerian/lembaga lain secara administrasi, kecuali pidana," jelas Tito. Kewenangan luas ini membuat Itjen harus memperkuat pengawasan internal dan koordinasi dengan KPK, kepolisian, Ombudsman, Komnas HAM, BPK, serta BPKP.

Selain aspek pengawasan, rotasi jabatan strategis lain seperti Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa (Dirjen Bina Pemdes) mendapat sorotan khusus. Posisi ini memegang kendali atas agenda pembangunan desa yang sedang gencar dijalankan, termasuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Tito menyatakan bahwa pertimbangan utama dalam penempatannya adalah rekam jejak, kinerja masa lalu, dan kemampuan menjaga stabilitas organisasi. Bagi Tito, pejabat dengan pengalaman panjang yang mampu bersikap tenang dalam menghadapi persoalan kompleks sangat dibutuhkan untuk mendukung tugas pimpinan.

Dampak dari penataan struktur ini langsung terasa pada dinamika birokrasi kementerian. Dengan menempatkan figur-figur yang dianggap loyal dan memiliki rekam jejak bersih, Tito sedang merestrukturisasi lini komando Kemendagri guna memastikan instruksi dari pimpinan diterjemahkan dengan cepat dan akurat di lapangan, khususnya dalam hal pengawasan daerah dan penguatan kapasitas desa. Ini adalah sinyal bahwa integritas dan kesetiaan politik kini menjadi filter utama dalam karier administratif di bawah koordinasi Mendagri.

Analisis Redaksi

Langkah Tito Karnavian untuk mengedepankan 'loyalitas' di atas kecerdasan teknis bukan sekadar retorika, melainkan strategi konsolidasi kendali organisasi. Dengan merotasi pejabat Eselon I yang menduduki posisi pengawasan (Itjen) dan kebijakan desa, Mendagri memastikan tidak ada 'gerbang' lain yang bisa melewati komandonya. Di konteks politik nasional yang dinamis, memastikan loyalitas para pelaksana kebijakan di daerah menjadi kunci agar program pemerintah pusat tidak tumpul di tingkat implementasi.

Meskipun demikian, penekanan pada loyalitas juga membawa risiko bagi objektivitas pengawasan. Jika Itjen Kemendagri, yang secara struktural bertugas mengawasi Pemda, diisi oleh figur yang terlalu terikat pada loyalitas pribadi terhadap Menteri, ada kekhawatiran bahwa prinsip independensi dalam pemeriksaan administrasi dapat terpengaruh. Titik kritisnya ada di sinilah: bagaimana menyeimbangkan kedekatan dengan pimpinan dengan profesionalisme murni dalam menindak temuan pemeriksaan di lapangan. Koordinasi dengan lembaga eksternal seperti KPK dan BPK menjadi penyangga penting untuk menjaga agar sistem pengawasan tidak menjadi alat politisasi semata, melainkan benar-benar berfungsi sebagai mekanisme kontrol yang sehat.

BERITA TERKAIT (Politik)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ