Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Pemkab Situbondo Tawarkan 'Perahu Besar' Ekonomi di Jalur Sejarah Anyer-Panarukan

EkonomiSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Nasional
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pemkab Situbondo Tawarkan 'Perahu Besar' Ekonomi di Jalur Sejarah Anyer-Panarukan
BAGIKAN:

Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menegaskan bahwa pemerintah daerahnya tidak ingin membiarkan sejarah kelam Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan selama era kolonial Belanda menjadi artefak pasif di museum. Pada Minggu (11/10) di Jakarta, Pemkab Situbondo resmi meluncurkan inisiatif Festival Anyer-Panarukan dengan target ambisius: mengubah koridor sejarah sepanjang 1.000 kilometer tersebut menjadi mesin penggerak ekonomi dan konektivitas yang nyata. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa warisan masa lalu menjadi fondasi kesejahteraan masa depan, bukan sekadar catatan teks.

Dalam konferensi pers itu, Rio memakai metafora 'perahu besar' untuk menjelaskan strategi yang dijalankan. Menurutnya, narasi sejarah itu menjadi kendaraan utama untuk memperkuat infrastruktur, membuka akses pariwisata, serta merangsang pertumbuhan ekonomi di desa-desa yang selama ini terpinggirkan di sepanjang jalur. Kemitraan strategis dibangun dengan menggandeng Pemkab Serang sebagai titik awal Anyer, serta melibatkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Dukungan ini krusial karena ribuan desa di koridor itu butuh dorongan untuk naik kelas secara kolektif.

Agar festival tidak menjadi seremonial belaka, Pemkab Situbondo memetakan langkah konkret di lapangan. Kegiatan pertama adalah Ekspedisi Anyer-Panarukan, di mana tim dari Situbondo dan Serang akan turun ke lokasi untuk memetakan potensi lokal. Tujuan pemetaan ini spesifik: mengidentifikasi desa yang cocok menjadi desa wisata, desa digital, desa agrikultur, hingga sektor maritim. Pendekatan berbasis data lapangan ini menjadi prasyarat agar investasi dan program berikutnya tidak bertele-tele dan tepat sasaran.

Di tingkat lokal, revitalisasi fisik pun mulai dilakukan. Pemkab Situbondo menyulap kawasan Kota Besuki menjadi pusat sejarah atau heritage hub setelah sebelumnya infrastrukturnya dibiarkan rusak bertahun-tahun. Penataan ini dipadukan dengan agenda kebudayaan seperti Hari Raya Tembakau dan pesta rakyat. Rio menjelaskan bahwa perbaikan fisik di Kota Besuki menjadi bukti nyata bahwa Pemkab tidak hanya berjanji di atas kertas, tetapi juga mengucurkan anggaran untuk infrastruktur yang melimpah sejarahnya itu.

Optimisme terhadap kolaborasi lintas daerah ini cukup besar, terutama karena keterlibatan Kemendes PDTT membuka peluang bagi ribuan desa untuk berkembang secara masif. Rio meyakini bahwa jika konektivitas sejarah ini berhasil dihidupkan, dampaknya akan langsung terasa pada perputaran ekonomi warga, terutama bagi pelaku UMKM yang selama ini sulit menjangkau pasar luas. Inisiatif ini sekaligus menggeser posisi Situbondo dari sekadar ujung jalur Panarukan menjadi penggerak utama ekonomi berbasis sejarah di Indonesia.

Analisis Redaksi

Pendekatan 'perahu besar' yang digagas Pemkab Situbondo merupakan pergeseran paradigma dari pariwisata berbasis cinderamata menuju pariwisata berbasis narasi dan konektivitas. Selama ini, jalur sejarah di Indonesia sering dipelopori oleh pemerintah pusat secara terpusat dan top-down, sehingga tidak menyentuh langsung ekonomi riil masyarakat desa. Dengan melibatkan kementerian desa dan pemerintah kabupaten di kedua ujung utara dan selatan jalur, model ini berpotensi menciptakan rantai pasok ekonomi yang lebih inklusif bagi masyarakat akar rumput.

Hal yang perlu diwaspadai adalah tantangan infrastruktur konektivitas fisik di daerah-daerah yang belum terjamah modernisasi. Pemetaan potensi desa digital dan agrikultur oleh tim ekspedisi harus didukung oleh jaringan telekomunikasi dan logistik yang memadai agar investasi pariwisata tidak terhambat oleh minimnya aksesibilitas. Jika infrastruktur fisik dan digital tidak sinkron dengan revitalisasi heritage hub di Situbondo dan Serang, maka festival ini berisiko tetap menjadi agenda seremonial tahunan tanpa daya ungkit ekonomi yang signifikan.

Secara logis, langkah selanjutnya yang harus diwaspadai adalah kesinambungan pendanaan. Mengingat koridor ini mencakup ribuan desa, butuh komitmen fiskal yang berkelanjutan dari pemerintah pusat dan daerah. Jika sukses, model integrasi sejarah-ekonomi ini bisa menjadi blueprint pengembangan ekonomi kreatif di koridor-koridor sejarah lain di Indonesia. Keberhasilan festival ini akan menjadi tolok ukur penting bagi efektivitas kolaborasi antardaerah dalam menggerakkan potensi endogen bangsa.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ