Cabai Melonjak Rp80 Ribuan, Jateng Gelar Pasar Murah Serentak Antisipasi El Nino
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Lonjakan harga cabai merah yang menembus kisaran Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram menjadi pemicu utama tindakan cepat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Bersama Bank Indonesia, Bulog, dan petani setempat, Pemprov Jateng resmi menggelar Gerakan Pangan Murah di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng pada Senin (12/10). Aksi ini menyasar pedagang warung, usaha katering, petani, serta masyarakat umum di Kabupaten dan Kota Semarang untuk meredam tekanan inflasi bahan pokok.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar bazar, melainkan intervensi strategis. "Kerja kolaboratif ini yang dijadikan sebagai role model, sehingga Jawa Tengah tetap menjadi provinsi yang inflasinya terkendali. Tidak hanya di Semarang tetapi juga daerah lain agar inflasi kita terjaga," kata Luthfi. Ia menekankan pentingnya menjaga keterjangkauan bahan pokok di tengah guncangan harga yang dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil.
Dampak kenaikan harga terlihat jelas di lapangan. Joko, seorang pedagang nasi goreng, mengungkapkan bahwa kenaikan harga cabai dalam dua minggu terakhir cukup memberatkan omzetnya. "Ini baru beli cabai 3 kg. Harga cabai di pasaran terakhir beli Rp65 ribu, di sini dapat Rp45 ribu. Biasanya untuk buat sambal saya butuh 5kg untuk satu minggu. Sangat membantu sekali," ujar Joko. Hal serupa disampaikan Dari, pengusaha katering, yang merasa lega dapat membeli beras dengan harga Rp11.000 per kilogram, jauh di bawah tekanan pasar yang membuat biaya produksinya membengkak.
Di balik aksi pasar murah ini, Pemprov Jateng sedang mengantisipasi dampaknya dari fenomena cuaca. Luthfi menjelaskan bahwa pola tanam petani telah disesuaikan dengan program Dinas Pertanian dan Peternakan untuk mengawal pasokan dari hulu hingga hilir. "Karena El Nino inilah maka kita harus mempunyai ide kreatif dalam rangka pengendalian bahan pokok penting di wilayah kita," tuturnya. Sebagai bentuk dukungan, bantuan berupa beras, sarana perpipaan air, hingga rumah burung hantu didistribusikan kepada kelompok tani untuk menjaga produktivitas.
Proyeksi produksi pangan Jawa Tengah sepanjang periode Januari-Oktober 2026 menunjukkan angka yang cukup optimis meski menghadapi tantangan cuaca. Produksi padi diprediksi mencapai 8,4 juta ton gabah kering giling atau setara 4,9 juta ton beras. Produksi cabai merah tercatat sekitar 404,91 ribu ton, sementara bawang merah mencapai 408,76 ribu ton. Data ini menjadi landasan strategis bagi pemerintah daerah dalam memastikan ketersediaan stok tetap aman bagi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun.
Analisis Redaksi
Langkah ini menunjukkan pergeseran paradigma dalam pengendalian inflasi daerah dari pendekatan reaktif ke proaktif berbasis data produksi. Dengan mengaitkan langsung isu El Nino terhadap intervensi pasar, Pemprov Jateng sedang membangun jaring pengaman ekonomi bagi sektor usaha mikro yang paling rentan terhadap fluktuasi harga pangan. Keterlibatan aktif kelompok tani dalam rantai pasok menjamin bahwa stabilitas harga tidak hanya terjadi di titik jual, tetapi juga terjaga di tingkat produksi.
Apa yang perlu diwaspadai adalah potensi ketergantungan sementara jika intervensi harga tidak disertai peningkatan kapasitas produksi secara masif. Namun, dengan proyeksi 4,9 juta ton beras dan distribusi sarana irigasi yang terukur, langkah ini berpotensi menjadi model (role model) yang bisa direplikasi di daerah lain. Keberhasilan skema ini bergantung pada konsistensi kolaborasi empat arah: pemerintah, bank sentral, BUMN pangan (Bulog), dan petani lokal dalam satu sistem komando.
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

Neraca Dagang RI Cetak Surplus 10,61 Miliar Dolar AS Jan-Sep 2026, Ekspor Kuat Jaga Stabilitas

BPS: Lonjakan Harga Cabai dan Beras Dorong Inflasi Oktober 2026 Capai 0,22 Persen

BPS Catat Ekspor RI Januari-September 2026 Tembus US$221,23 Miliar, Didorong Lonjakan Komoditas Unggulan
