Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Dua Spesies Badak Kritis Indonesia: Beda Fisik, Ancaman Kepunahan yang Sama

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: Antara Nusantara
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Dua Spesies Badak Kritis Indonesia: Beda Fisik, Ancaman Kepunahan yang Sama
BAGIKAN:

Indonesia menjadi rumah terakhir bagi dua spesies badak Asia yang kini berstatus kritis, yakni Dicerorhinus sumatrensis dan Rhinoceros sondaicus. Keduanya menghadapi risiko kepunahan akibat populasi yang sangat terbatas, meskipun memiliki karakteristik fisik, ukuran tubuh, serta pola persebaran habitat yang sangat berbeda.

Kontras Fisik dan Anatomi Dua Satwa Langka

Perbedaan paling kentara antara kedua mamalia besar ini terletak pada struktur cula di bagian kepala. Berdasarkan catatan IUCN SSC Asian Rhino Specialist Group, Dicerorhinus sumatrensis merupakan satu-satunya badak Asia yang membawa dua cula dari keratin—protein pembentuk rambut dan kuku manusia—bukan tulang. Cula depannya lebih menonjol, sementara cula belakang kerap kali hanya tampak sebagai tonjolan kecil. Sebaliknya, Rhinoceros sondaicus umumnya hanya memiliki satu cula pendek, bahkan pada individu betina sering kali nyaris tak terlihat.

Dimensi tubuh keduanya juga menunjukkan kontras tajam. Dicerorhinus sumatrensis menyandang predikat sebagai spesies badak terkecil di dunia dengan tinggi bahu 1 hingga 1,5 meter dan bobot 600 hingga 950 kilogram. Tubuhnya diselubungi rambut kasar berwarna cokelat kemerahan yang cukup lebat pada individu muda, sehingga satwa ini kerap dijuluki hairy rhinoceros. Di sisi lain, Rhinoceros sondaicus memiliki postur jauh lebih besar dengan tinggi bahu 1,4 hingga 1,7 meter serta bobot mencapai 900 hingga 2.300 kilogram. Kulitnya berwarna abu-abu kecokelatan tanpa rambut yang berarti saat dewasa, dilengkapi lipatan tebal menyerupai tameng pelindung, khususnya di area leher dan bahu.

  • Jumlah cula: Dicerorhinus sumatrensis memiliki dua cula keratin, sedangkan Rhinoceros sondaicus umumnya hanya satu.
  • Bobot tubuh: Berkisar 600 hingga 950 kilogram untuk spesies Sumatra, dan 900 hingga 2.300 kilogram untuk spesies Jawa.
  • Masa kehamilan: Kedua spesies sama-sama membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 16 bulan untuk melahirkan satu anak.

Sebaran Habitat dan Kerentanan Populasi

Pola persebaran geografis menjadi faktor penentu tingkat kerentanan masing-masing spesies. Populasi Dicerorhinus sumatrensis masih tersebar dalam kelompok-kelompok kecil yang terisolasi di kawasan hutan tropis rapat, baik dataran rendah maupun pegunungan di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Satwa ini mengandalkan moncongnya yang relatif kecil untuk menjangkau berbagai vegetasi hutan, serta dikenal lebih vokal dengan kemampuan mengeluarkan siulan dan lenguhan yang diduga berfungsi sebagai alat komunikasi jarak jauh di tengah rimba.

Berbeda halnya dengan Rhinoceros sondaicus yang seluruh populasi alaminya kini terkonsentrasi secara eksklusif di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Bibir atasnya yang panjang dan meruncing seperti jari berevolusi khusus untuk menarik daun, pucuk, serta ranting muda. Satwa ini sangat sulit dijumpai secara langsung sehingga pemantauan populasinya sangat bergantung pada kamera jebak dan jejak di habitat alami. Konsentrasi populasi di satu titik ini memicu kekhawatiran serius, mengingat gangguan berskala besar seperti wabah penyakit atau bencana alam berpotensi memusnahkan keseluruhan spesies sekaligus.

Kedua spesies tersebut berbagi siklus reproduksi yang lambat karena hanya melahirkan satu anak per periode kehamilan. Kondisi ini membuat pemulihan populasi berjalan sangat panjang, terutama ketika jumlah individu yang tersisa sudah sangat minim. Ancaman kerusakan habitat, perburuan ilegal, serta isolasi kelompok kecil memperumit upaya konservasi yang saat ini difokuskan pada perlindungan wilayah hidup, patroli rutin, dan pemantauan berkelanjutan.

Meow! Tanya Nesi!
😸