Strategi Belanja Pangan di Tengah Lonjakan Harga: Prioritas dan Pencatatan Jadi Kunci
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Kenaikan harga bahan pokok yang terus terjadi memaksa rumah tangga Indonesia untuk mengubah pola konsumsi secara drastis, bukan sekadar mengandalkan penghematan pasif. Perencana Keuangan Andy Nugroho menegaskan bahwa tanpa strategi belanja yang terukur, anggaran pangan akan dengan mudah jebol karena pengeluaran tidak sebanding dengan pendapatan yang stagnan. Solusi utamanya terletak pada pemisahan alokasi dana sejak awal dan penentuan skala prioritas yang ketat.
Dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com pada Sabtu (9/10), Andy menjelaskan hierarki pengeluaran yang harus dipatuhi oleh setiap kepala keluarga. "Seseorang harus memprioritaskan pengeluaran yang bersifat penting dan wajib seperti bayar cicilan, beli token, biaya SPP anak, dan yang lainnya," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kategori kedua adalah pengeluaran penting namun fleksibel, meliputi makan sehari-hari dan transportasi. Dengan pendekatan ini, dana belanja pangan hanya boleh berasal dari sisa setelah kewajiban primer terpenuhi, sehingga risiko gagal bayar tagihan lain dapat diminimalisir.
Mitos bahwa membeli dalam jumlah besar selalu lebih hemat ternyata menyesatkan bagi banyak keluarga urban. Andy mengingatkan bahwa pembelian masif justru berisiko tinggi jika konsumen tidak memiliki kapasitas memasak atau penyimpanan yang memadai. "Kita membeli bahan makanan dalam jumlah banyak, padahal sebenarnya kita males masak," sindirnya. Bahan-bahan yang cepat busuk atau kedaluwarsa akibat salah simpan menjadi kerugian finansial ganda, ditambah potensi pemborosan karena dorongan FOMO terhadap tren makanan viral atau promo diskon yang belum tentu merupakan kebutuhan pokok.
Perencana Keuangan Aidil Akbar menawarkan perspektif berbeda melalui metode pencatatan dan evaluasi berkala. Ia menyarankan masyarakat mencatat seluruh pengeluaran pangan selama 30 hari penuh, termasuk pos-pos kecil seperti kopi, camilan, dan pesan antar yang sering luput dari perhatian. "Catat seluruh pengeluaran pangan selama 30 hari, termasuk jajan, pesan antar, kopi, dan makan di luar," tegas Aidil. Data historis ini kemudian dibandingkan dengan penghasilan bersih dan kewajiban rutin untuk menyusun anggaran bulanan yang realistis, yang selanjutnya dipecah menjadi batas belanja mingguan.
Aidil juga menekankan pentingnya menghitung biaya per porsi daripada sekadar melihat label harga satuan di rak toko. Strategi ini membantu konsumen memilih bahan pangan bergizi namun terjangkau, seperti tahu, tempe, sayuran, dan telur, yang menurut Andy mampu memenuhi kebutuhan gizi tanpa membebani dompet. Selain itu, ia mengingatkan agar pertimbangan biaya transportasi masuk dalam kalkulasi; berbelanja sedikit demi sedikit ke beberapa lokasi mungkin tampak murah, namun bisa jadi lebih boros jika ongkos perjalanan melebihi selisih harga barang.
Analisis Redaksi
Fenomena lonjakan harga pangan saat ini mengungkap kerentanan struktural dalam manajemen keuangan rumah tangga kelas menengah bawah di Indonesia. Masalahnya bukan semata-mata pada daya beli yang turun, melainkan pada literasi keuangan yang masih rendah mengenai konsep opportunity cost dan sunk cost. Banyak keluarga terjebak dalam bias kognitif bahwa stok besar berarti aman, padahal inflasi pangan erosi nilai uang tunai mereka sendiri. Pergeseran paradigma dari 'belanja berdasarkan keinginan sesaat' ke 'pengelolaan arus kas berbasis data' menjadi imperatif survival ekonomi domestik.
Langkah logis berikutnya bagi pemerintah dan otoritas terkait seharusnya tidak hanya fokus pada intervensi harga pasar, tetapi juga memperluas akses edukasi keuangan praktis di tingkat komunitas. Jika individu dibiarkan sendirian menghadapi volatilitas harga tanpa alat bantu perencanaan yang sederhana, ketimpangan sosial akan semakin melebar. Ke depan, keberhasilan adaptasi rumah tangga sangat bergantung pada disiplin pencatatan dan keberanian memangkas pengeluaran non-esensial yang selama ini dianggap sebagai hak standar hidup modern.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DJP Klarifikasi: GOTO dan Lazada Bukan Pemungut Pajak Digital, Cakupan SPP-TDLN Masih Terbatas

Bahlil Tutup Akses Ekspor Listrik ke Singapura, Perintahkan Danantara Tolak Lobi

Andalkan Empat Segmen Bisnis, Telkom Rebut Target Laba Bersih Rp14,4 T di Kuartal III 2026
